Pengaruh Negara-negara Besar di Afrika (Studi Kawasan Afrika)

Kawasan Afrika memiliki arti penting bagi Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa Barat (Inggris, Prancis, Belanda, Portugis/Portugal, dan Belgia), Rusia, Jepang dan RRC. Akumulasi kepentingan itu dapat dilihat dari besarnya pengaruh yang diperlihatkan oleh negara-negara besar tersebut dalam menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara di benua Afrika baik dalam bidang Ekonomi, Politik, Pertahanan-keamanan, dan Sosial-kemasyarakatan.  Adapun contoh dari pengaruh-pengaruh tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

  1. 1. Amerika Serikat

Sebagai negara super power Amerika Serikat tentunya memiliki kemampuan dan kekuatan baik dalam bidang ekonomi dan militer untuk memberikan pengaruhnya dalam rangka pencapaian kepentingan nasionalnya di wilayah Afrika. Melalui citra demokratisasi dan penegakan HAM, AS mulai menjalankan pengaruh dan hubungan kerjasama dengan negara di benua hitam ini utamanya pada bidang:

Bidang Ekonomi

AS-Libya

Amerika Serikat telah memberlakukan embargo ekonomi terhadap Libya selama lebih dari 18 tahun. Padahal Libya sangat membutuhkan investasi asing untuk membangun sektor industri energinya. Sebaliknya saat ini Amerika sedang mengalami krisis energi, dan berkeinginan untuk melakukan diversifikasi sumber-sumber energinya. Libya sebagai negara yang diembargo oleh AS muncul sebagai negara yang memiliki sumber minyak besar. Akhirnya melalui pendekatan politik dimana Libya telah mengakui untuk menghentikan proyek nuklirnya menjadi pembuka pintu hubungan diplomatik antara AS-Libya pada tahun 2004.

Hubungan kerjasama AS dan Libya ditandai dengan adanya pemberian kesempatan oleh Libya kepada perusahaan minyak AS yang sebelumnya pernah beroperasi di Libya untuk kembali menanamkan modalnya. Perusahaan minyak tersebut antara lain ConocolPhilips Co, Marathon Oil Corp, dan Amerada Hess Corp yang akan bekerjasama dengan perusahaan nasional Libya yakni Libyan National Oil Corp dalam memproduksi minyak sebanyak 300.000 barel per hari.

AS-Angola

Amerika bertujuan untuk mempererat hubungan diplomatiknya dengan Angola. Hubungan kedua negara sebenarnya sudah mulai membaik setelah perang saudara 27 tahun di Angola. Waktu itu Amerika membantu pemerintah memerangi UNITA yang sekarang merupakan partai oposisi terbesar di Angola. Kerjasama antara Amerika dan Angola diutamakan dalam hal pembangunan ekonomi Angola.

Selama ini Angola merupakan negara penghasil minyak terpenting Afrika. Sebesar 7 persen minyak AS diimpor dari Angola dan dalam beberapa tahun terakhir milyaran dolar diinvestakan dua perusahaan AS, Chevron dan Exxon Mobil untuk mendongkrak produksi minyak Angola. Keadaan yang demikian tentunya membawa angin segar bagi pertumbuhan ekonomi Angola, namun fakta menunjukkan dua pertiga rakyat negeri itu berpenghasilan tidak sampai dua dolar per hari.

Ternyata dalam daftar 180 negara paling korup di dunia, Angola berada pada peringkat 158 dan pemerintah AS ingin agar pemerintah Angola membasmi korupsi. Dukungan AS atas pemberantasan korupsi di Angola cukup beralasan karena pemerintahan yang baik akan mampu menjamin terjalinnya kerjasama ekonomi yang baik antara kedua negara utamanya dalam mengekspor minyak ke AS.

Bidang Politik

AS-Libya

Kerjasama AS dengan Libya kembali terbuka saat Presiden Libya Qaddafi memberi pengakuan pada bulan Desember 2003 bahwa Libya memang sedang melakukan pengembangan senjata pemusnah massal, tetapi akan menghancurkan program pengembangan tersebut. Sejak saat itu hubungan AS dengan Libya mulai membaik dengan asosiasi bahwa pemerintah Libya telah terbuka dan berupaya untuk menjadi good governance. Hal ini ditunjukkan secara resmi pada 28 Juni 2004 dimana AS membuka hubungan diplomatik dengan Libya yang sempat terputus selama 24 tahun.

AS-Liberia

Liberia merupakan negara yang kaya akan berlian tetapi terpuruk akibat perang saudara selama 14 tahun. Sejak terjadinya kudeta militer oleh Sersan Samuel Kanyon Doe terhadap presiden William Tolbert pada 12 April 1980 negara yang semula demokratis berubah menjadi otoriter. Namun kepemimpinan Doe mendapat dukungan dari AS karena AS mempunyai kepentingan yang sangat besar di Liberia. Kepentingan AS di Liberia antara lain sebagai stasiun transmisi voice of America yang siarannya dipancarkan ke seluruh Afrika dimana stasiun ini juga sekaligus merupakan pangkalan sistem navigasi omega bagi pelayaran di wilayah Atlantik. Tidak hanya itu, keduataan AS yang berada disana merupakan pusat transfer intelegen yang berkumpul di Afrika dan sekaligus tempat pesawat militer AS untuk mengisi bahan bakar.

Di bawah tekanan AS, Doe menghapuskan larangan bagi kegiatan politik dan mengupayakan pemilu untuk kembali menjadi negara demokrasi sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan oleh AS. Namun Doe selalu memanipulasi hasil pemilu sehingga memicu terjadinya konflik internal di Liberia. Banyaknya pelanggaran dan konflik yang terjadi di Liberia mengundang AS melalui PBB untuk menyelesaikan kasus Liberia di Mahkamah Internasional Den Haag pada tahun 2002. Dan kembali mengupayakan pemilu yang demokrasi di Liberia.

Bidang Pertahanan-keamanan

AS-Libya

Pasca terbukanya kembali hubungan diplomatik AS-Libya, maka dengan suka rela negara ini menyerahkan komponen-komponen atom dan berkas proyek nuklirnya kepada Amerika Serikat pada tahun 2004. Komponen-komponen atom milik Libya kemudian dipindahkan ke instalasi atom milik Amerika Serikat. Dan sebagai gantinya, Amerika Serikat menghapus Embargo dan traffict warning yang selama 18 tahun telah diterapkan kepada Libya.

Amerika Serikat juga mulai menginginkan kerjasama bidang militer yang lebih besar lagi dengan Libya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penandatanganan kerjasama pembangunan instalasi nuklir antara Libya dan AS. AS juga akan memberikan bantuan mulai dari pembangunan instalasi nuklir, pengoperasiannya sampai riset dan pemberian pelatihan teknis bagi para teknisi Libya di Amerika Serikat.

AS-Somalia

Dalam percaturan politik internasional, hegemoni AS mendapat saingan berat yakni Uni Soviet sebelum berakhirnya Perang Dingin. Hal ini ikut mempengaruhi intensitas dan aksi agresif AS untuk menjalin hubungan dengan negara-negara di Afrika dengan memberikan bantuan karena takut hegemoni Uni Soviet juga semakin berakar di wilayah Afrika. Salah satu wilayah pertempuran ideologi yang ditandai dengan persaingan militer antara AS dan Uni Soviet terjadi di wilayah Somalia. Ketika AS mendapatkan celah atas sikap Siyad Barre (pemimpin Somalia 1987) yang mulai anti-Soviet, maka wilayah yang sedang dirundung konflik internal dan perang dengan Eithopia mendapat dukungan AS. Selama tahun 1980-an Amerika Serikat memberikan bantuan senilai $ 800 juta, dimana seperempatnya merupakan bantuan militer. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat mendapatkan akses untuk melakukan aktivitas diwilayah pelabuhan dan lapangan terbang di Somalia.

Namun hubungan AS-Somalia bersifat statis tanpa ada perkembangan yang berarti. Bahkan AS juga mulai melakukan intervensi militer di Somalia pada tahun 1990. Selain itu, pasca aksi terror bom di kedutaan AS di Nairobi dan Darr-es-Salaam pada tahun 1998 Amerika Serikat berbalik dan melakukan serangan udara di Somalia selatan pada tanggal 8 dan 23 Januari 2007. Wilayah ini disinyalir sebagai sarang Al-Qaeda yang melakukan tindak terror tersebut. Aksi intervensi dan agresi atas nama perang melawan terorisme semakin sering terjadi. Hal ini menunjukkan kepada dunia internasional begitu besarnya pengaruh AS melalui kekuatan militernya di Somalia.

  1. 2. Negara-negara Eropa Barat

Para pemimpin Uni Eropa berharap bisa memperluas pengaruh di benua Afrika pada KTT Uni Eropa-Afrika. KTT itu bertujuan meningkatkan kerjasama mulai dari kerjasama pembangunan sampai soal perubahan iklim. Selain itu pengaruh Negara-negara Eropa di Afrika dapat kita lihat sebagai berikut:

Bidang Ekonomi

Inggris

Pada tahun 2005 komisi Afrika yang dibentuk oleh Perdana Mentri Inggris saat itu (Tony Blair) menyerukan upaya pembangunan ekonomi negara-negara Afrika secara keseluruhan. Ia mengatakan perlunya pemberian bantuan sebanyak $25 miliar kepada Afrika untuk jangka waktu 3-5 tahun ke depan.

Bidang Politik

Inggris-Zimbabwe

Di awal kemerdekaan Zimbabwe, Inggris membantu Mugabe dalam menata negaranya. Dengan bantuan dana dari Inggris, Presiden Mugabe menata lokasi pemukiman bagi 18.000 warga Zimbabwe. Program tersebut disertai dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, sekolah dan rumah sakit.  Namun perubahan begitu banyak terjadi. Pemberontakan menentang pemerintahan Mugabe yang korup dan sewenang-wenang terjadi dimana-mana, Mugabe juga telah berbalik menentang keberadaan negara Barat di wilayah Afrika. Pemberlakuan Land Reform oleh Mugabe yang merugikan warga kulit putih menjadi alasan utama atas protes negara-negara Eropa yang menjadi akar konfrontasi politik antara Zimbabwe dan Inggris. Namun Mugabe tidak segan-segan menyerukan kepada negara-negara Afrika agar menolak dan berhati-hati akan bentuk imperialism baru Inggris di tanah Afrika.

Bidang Pertahanan-keamanan

Inggris-Sudan

Keberadaan negara-negara Eropa di wilayah Afrika juga cukup berpengaruh secara signifikan. Inggris misalnya sebagai bekas penjajah wilayah Sudan ternyata keberadaannya dalam mengatur kebijakan pemerintahan Sudan di awal kemerdekaan membawa pengaruh hingga saat ini. Saat pendudukannya, Inggris memberlakukan kebijakan yang berbeda antara Sudan bagian Utara dan Bagian Selatan. Bahkan interaksi antara kedua wilayah Sudan tersebut dibatasi. Di wilayah utara yang mayoritas penduduknya Islam dibentengi dengan pendidikan dan modernisasi sehingga membentuk kelompok yang terpelajar. Sedangkan di wilayah Selatan yang mayoritas berpenduduk Black African diberlakukan kebijakan tertutup. Tidak boleh ada interaksi yang terjadi antara wilayah Utara dan Selatan apalagi dalam hal bisnis. Sehingga aktivitas ekonomi hanya berkembang di wilayah Utara. Hal inilah yang merupakan bibit pemecah wilayah Sudan oleh Inggris yang pada akhirnya menyulut konflik berkepanjangan di Sudan.

Prancis-Pantai Gading

Sejak awal kemerdekaan wilayah ini menjalin hubungan kerjasama dengan Prancis. Wilayah ini juga memiliki ketergantungan yang sangat signifikan dengan Prancis utamanya pada bantuan porsenil, dan investasi dari Prancis untuk mempertahankan keadaan ekonominya. Ketergantungan wilayah ini terhadap Prancis dapat dilihat dari sekitar lebih dari 50.000 porsenil Prancis yang bertugas sebagai penasihat di Pemerintahan, Dinas Keamanan dan Pertahanan, serta sebagai dosen/teknisi. Demikian pula sebaliknya banyak mahasiswa asal Pantai Gading yang dikirim ke berbagai universitas di Prancis. Hingga tahun 1980-an masih tercatat sekitar 12.000 porsenil Prancis yang bertugas di dinas Pemerintahan Pantai Gading.

Pertengahan tahun 2002, Pantai Gading mengalami Perang Saudara. Pasukan Perdamaian PBB dan Kontingen Prancis mengupayakan kerjasama untuk mengakhiri perang saudara disana. Keberadaan pasukan Prancis terasa sangat dominan di wilayah ini. Bahkan meminta pembubaran Parlemen. Keadaan yang demikian mengundang protes presiden dan kaum muda Pantai Gading yang berkembangn menjadi kerusuhan yang berakibat pada kelumpuhan sistem politik dan ekonomi wilayah ini.

  1. 3. Rusia

Bidang Ekonomi

Rusia-Libya

Hubungan Rusia dan Libya semakin intens, dalam bidang ekonomi utamanya perdagangan senjata militer, Libya berencana membeli 12-15 pesawat tempur multi guna Su-35, empat Su-30 dan enam pesawat latih tempur Yak-130 dari Rusia. Secara teknis, kontrak tersebut sebenarnya sudah siap namun secara keuangan masih perlu diselesaikan. Kontrak itu rencananya akan ditandatangani akhir 2009 atau awal 2010, yang bernilai sekitar US$ 1 miliar. Kontrak pembelian senjata Libya ke Rusia menandakan bahwa negara yang sempat dikucilkan oleh dunia internasional ini semakin memperlihatkan kemampuannya dengan menjalin hubungan kerjasama yang erat dengan dua negara besar sekaligus yakni AS dan Rusia utamanya dibidang pembelanjaan militer.

Bidang Pertahanan-keamanan

Rusia- Kongo

Peran Rusia di bidang militer juga sangat signifikan di kala Republik Demokrasi Kongo mengalami konflik internal pada tahun 1960. Pesawat-pesawat Rusia pada waktu itu memberikan bantuan makanan bagi Kongo yang disertai dengan pengiriman ratusan truk. Perdana Mentri Kongo, Patrice Lumumba bahkan meminta bantuan militer kepada Rusia hingga akhirnya Rusia mengirimkan 15 pesawat Ilyushin, suppli senjata dan sekitar 300 teknisi dan penasihat militer dari blok Soviet (Rusia). Bantuan militer ini secara tidak langsung membantu dalam upaya meredam gejolak dalam negeri Kongo yang meskipun pada akhirnya tetap mendapat kecaman oleh pihak AS melalui PBB.

Rusia-Libya

Setelah menjalin hubungan kerjasama militer dengan AS pada tahun 2004, Libya (diwakili oleh Lembaga Manajemen Energi Nuklir) kemudian menandatangani perjanjian kerjasama dengan Rusia (diwakili oleh Badan Energi Atom Rusia) pada tahun 2008 di bidang penggunaan nuklir sipil damai, khususnya dalam perancangan dan pembangunan reaktor serta persediaan bahan bakar nuklir. Perjanjian itu juga diperluas ke penggunaan nuklir dalam kedokteran dan perawatan pembuangan nuklir.

Selain itu Rusia dan Libya juga telah menandatangani perjanjian yang berkaitan dengan seruan bagi pembentukan sebuah badan gaya-OPEC untuk negara-negara penghasil-gas dan pembukaan hubungan udara langsung antara Moskow dan Tripoli.

Rusia-Somalia

Pasca kudeta Mongadisu pada tahun 1969 aktivitas keterlibatan Rusia (Uni Soviet) di Somalia semakin meningkat. Apalagi saat pemimpin baru hasil kudeta Siyad Barre mengumumkan Somalia sebagai negara berpaham Marxist, pengaruh Rusia semakin berakar di begara ini. Siyad semakin rajin melaksanakan nasionalisasi dan menempatkan penasihat dari Rusia di kementerian dan badan-badan kemiliteran di Somalia. Bahkan pada tahun 1972, Rusia mendapat wewenang untuk menggunakan salah satu pelabuhan di Somalia Utara untuk memperluas pengaruhnya di Laut Merah dan Samudra Hindia. Berkat bantuan Rusia, Somalia akhirnya berhasil membentuk 37.000 tentara dengan angkatan udara modern yang dilengkapi pesawat tempur jet.

Namun hubungan yang langgeng antara Rusia dan Somalia berakhir dengan pembatalan perjanjian kerjasama oleh Somalia karena Siyad merasa tidak mendapat dukungan oleh Rusia lagi. Akhirnya Rusia dibantu oleh Kuba mendukung pasukan Eithopia yang sedang berperang dengan Somalia yang juga mendapat bekingan militer dari AS.

  1. 4. Jepang

Bidang Ekonomi

Jepang saat ini tumbuh sebagai negara dengan ekonomi maju yang bertitik tolak pada peningkatan hasil industri dan teknologi. Industri utama Jepang adalah otomotif sekaligus mengembangkan industri manufaktur tetapi negara ini kekurangan SDA untuk menopang industrinya sehingga harus membuka hubungan kerjasama dengan negara-negara penghasil bahan mentah di Afrika untuk menopang kebutuhan bahan mentahnya. Saat ini Jepang telah menjalin hubungan kerjasama dengan negara Afrika Selatan dalam hal barang tambang (platinum dan uranium) untuk mendukung produksi otomotifnya serta menjalin hubungan baik dengan Libya dalam hal pemenuhan energi. Perusahaan ternama asal Jepang yakni “Teikoku” menjadi kaki tangan Jepang dalam proyek energy dan pengeboran kilang minyak di lepas pantai Libya.

Bidang Politik

Upaya kerjasama politik yang dilakukan oleh Jepang terhadap negara-negara Afrika sangat jelas terlihat dari keinginan Jepang untuk merangkul negara-negara Afrika untuk menjadi penyokong suara Jepang di PBB. Dalam Sidang Umum PBB yang membahas tentang perluasan anggota Dewan Keamanan PBB, Jepang kalah bersaing dengan negara-negara Barat lantaran tidak mendapat dukungan penuh dari 53 negara Afrika yang merupakan anggota PBB. Sehingganya Jepang melemparkan isu politik pentingnya ada perwakilan setiap benua atau kawasan dalam dewan keamanan PBB, isu ini memang sangat sensitif mengingat Afrika sebagai suatu kawasan yang sangat luas belum tersentuh ranah-ranah penting dalam DK PBB layaknya Jepang. Sehingga melalui isu ini Jepang sangat berharap mampu menjalin hubungan dengan negara-negara Afrika dan pada akhirrnya memberi keuntungan politik bagi Jepang.

  1. 5. Republik Rakyat Cina (RRC)

Berakhirnya Perang dingin antara AS dan Uni Soviet yang disusul dengan jatuhnya hegemoni Uni Soviet member jalan bagi Cina sebagai kekuatan ekonomi dunia untuk memberi pengaruh pada negara-negara di Afrika. Republik Rakyat Cina (RRC) sudah mulai menunjukkan minat dan pengaruh yang besar pada Afrika, setidaknya pada sumber daya alam yang terkandung di benua tersebut. Sebagai bukti ketertarikannya, pada tahun 2006 Cina mengadakan KTT China-Afrika yang dihadiri oleh 48 pemimpin negara-negara Afrika di Beijing. Dalam KTT tersebut disepakati 16 perjanjian perdagangan dan investasi dengan Cina yang nilainya mencapai angka US$ 1,9 miliar. Setelah KTT tersebut, sebagai langkah awal presiden China Hu Jintao akhirnya mengunjungi 8 negara Afrika pada tahun 2007 untuk mengadakan perjanjian dan memberikan bantuan yang akan diberikan terhadap negara-negra di benua Afrika serta melihat keberhasilan kerjasama dengan negara-negara Afrika yang telah dijalin sebelumnya

Sebagai calon negara super power, Cina ternyata memiliki pengaruh dan kepentingan yang cukup besar terhadap negara-negara di Afrika utamanya jika dilihat pada:

Bidang Ekonomi

Cina menebar hubungan kerja sama ekonomi dengan berbagai negara di Afrika. Hubungan kerjasama tersebut sebagian besar pada sektor energi dengan maksud untuk menepong kebutuhan energi Cina. Cina memiliki cadangan minyak yang sedikit dan diperkirakan pada tahun 2030 akan mengimpor minyak sebanyak 7,3 juta barel setiap tahunnya. Demikian pula dengan sumber-sumber energi lainnya yang secara pribadi tidak dapat dipenuhi oleh negara itu dari hasil SDAnya sendiri. Saat ini Cina mengambil minyak bumi dari Nigeria, Guinea Ekuatorial, Sudan, Gabon, dan Angola. Biji besi dan Platinum dari Afrika Selatan. Tembaga dan Kobalt diimpor dari Republik Demokrasi Kongo (RDK) dan Zambia.

Cina-Sudan

Di tengah pergolakan politik/pemerintahan serta konflik internal yang terjadi di Sudan, Cina tetap berupaya untuk melirik dan mendapatkan pasokan minyak yang sebesar-besarnya dari negara ini. Sudan sebagai negara terbesar di Afrika telah menjadi mitra bisnis Cina yang memberi dampak yang cukup signifikan. Saat ini Cina melahap 60% ekspor minyak dari Sudan, padahal sebelum kedatangan Cina di Sudan, negara ini merupakan net importir minyak. Namun Cina membantu Sudan untuk membangun sumur penyulingan minyak serta jalur pipa minyak secara besar-besaran dari wilayah Selatan Sudan ke Port Sudan di wilayah Laut Merah. Hal ini menyebabkan Sudan menjadi pengekpor minyak yang sebagian besar diekspor ke Cina.

Selama konflik Darfur di Sudan terjadi, Cina telah mengirimkan 4.000 tentara ke Sudan untuk melindungi investasinya di sana dalam proyek jalur pipa minyak yang dikerjakan bersama-sama petronas Malaysia. Bagaimanapun Cina telah berupaya untuk melindungi asset-asetnya di wilayah Afrika utamanya yang merupakan wilayah konflik bahkan dengan menggunakan cara-cara yang sama dengan AS dan Inggris.

Cina-Angola

Angola merupakan salah satu negara yang bergejolak di benua Afrika. Angola merupakan negara yang dijauhi dan dihindari oleh kebanyakan negara Barat. Namun keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh Cina untuk menperluas pengaruhnya. Pada Maret 2004, Cina memberikan Angola pinjaman lunak sebesar US$2 miliar sebagai penukar bagi 10.000 barel minyak per hari yang merupakan angka 35 % dari jumlah impor minyak Cina dari luar.

Bidang Pertahanan-keamanan

Selain tumbuh dengan kekuatan ekonominya, Cina juga mulai mengembangkan kekuatan militer. Sejak AS dan Uni Eropa melakukan embargo senjata atas Cina, maka Cina tumbuh sebagai negara yang mengembangkan industri persenjataannnya sendiri. Cina mengumumkan peningkatan anggaran pengeluaran untuk militer tahun 2007 yang mencapai angka 17,8% dari jumlah pembelanjaan pada tahun 2005 yang mencapai angka US$30 miliar. Embargo yang dilakukan oleh AS dan Uni Eropa untuk menghentikan negara tersebut untuk menjadi sebuah kekuatan militer hanya memperlambat proses. Kini Cina telah menjadi negara yang mempunyai industri senjata sendiri yang besar dan canggih. Hal ini diperkirakan menjadikan Cina sebagai negara pabrik dan pengekspor teknologi militer yang canggih yang ternyata telah diperlihatkan pada pasar-pasar di benua Afrika misalnya pada:

Cina-Zimbabwe

Cina mendekati Zimbabwe yang saat ini pemerintahnya dijauhi oleh masyarakat dunia. Cina dilaporkan menutup transaksi bernilai US$200 juta untuk memasok jet pemburu dan peralatan militer lainnya ke Zimbabwe. Dengan konsekuensi sebagian besar hasil panen tembakau Zimbabwe dijual ke Cina.

Bidang Sosial-kemasyarakatan

Cina-Zambia

Pada tahun 2004 kontraktor-kontraktor Cina membantu membangun sebuah pembangkit hidroelektrik bernilai US$600 juta di Zambia.

Cina-Algeria

Perusahaan Cina Huawei Technologies membangun fasilitas telepon seluler di Algeria pada tahun 2003.

Besarnya intensitas hubungan kerjasama di berbagai bidang yang dilakukan oleh negara-negara besar di Afrika memperlihatkan kita betapa Benua Afrika memiliki arti penting bagi negara-negara tersebut tidak hanya karena ketersediaan SDA tetapi juga dibidang politik, pertahanan dan keamanan. Sramble for Africa adalah istilah yang klop bagi negara-negara besar seperti AS, Rusia, EropaBarat, Jepang dan Cina dalam perjalanan hubungan kerjasama merekia dengan negara Afrika. Karena dalam kerjasama itu sangat jelas terlihat bagaimana negara-negara besar memperebutkan wilayah Afrika untujk menopang kebutuhan energy, SDA serta menjadikan wilayah ini sebagai pangsa pasar mereka dalam pertarungan ekonomi dan plitik internasional.

One thought on “Pengaruh Negara-negara Besar di Afrika (Studi Kawasan Afrika)

  1. thanks atas postingnya, tulisan anda sangat berwawasan, jika saya boleh tau apa pendpat anda tentang pengaruh pengaruh paham kapitalis terhadap perekonomian Asean dan saya berharap klo bisa mba juga tolong turunkan tulisan tentang negara bekas bagian NKRI Timor leste dilihat dari aspek plitik ekonomi dan sosial setelah merdeka dari kita. Soalnya Kata teman-teman satu satunya pendapatn Timor Leste setelah merdeka mereka cuma berharap dari pendapatan minyak di laut mereka. Bukankah Minyak merupakan salah satu komoditi politik yang paling menonjol di kawasan afrika hingga mereka sering terjadi konflik>?

    selamt dan terus berkarya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s