Belajar Makna Berjuang dari yang Belum Mengerti Arti Berjuang

“Semua Perjalanan Hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu” (Dee, Supernova #1). Kutipan novel Dee Lestari itu terngiang-ngiang di telingaku, seolah tawa mereka berubah bunyi ketika sampai di gendang telingaku dan kucerna sebagai kalimat yang entah akan membuatku sedih atau harus merasa malu. Sedih karena melihat anak sekecil itu sudah harus merasakan sakit yang luar biasa, sekaligus malu karena mereka tak pernah merasa putus asa, mereka berjuang meski sebenarnya mereka belum mengerti arti berjuang. —–

Entah bagaimana membahasakan perasaan yang ada dalam hati ketika pertama kali bertemu dengan mereka, sebelumnya langkah kaki ini begitu optimis berjalan di korodor RS Wahidin Makassar. Menyusuri lorong ruang perawatan dan kemudian melangkah masuk ke salah satu ruangan yang penuh warna, persis seperti taman kanak-kanak. Satu persatu mereka masuk ditemani orang tuanya, duduk sambil bermain lego, tak tahu harus melakukan apa, sayapun memulai mendekati mereka, menanyakan nama mereka.

“Kakak boleh ikut main?” sambil memegang permainan lego yang ada di meja belajar. Dia hanya mengangguk tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tiba-tiba seorang anak bersuara.

“Dia memang pemalu kak”

“Hei… benarkah, kalau kamu pemalu tidak?” tanyaku padanya. Dan mulailah cerita panjang kami sambil bermain. Sesekali kupandangi wajah mereka dalam-dalam, kulihat cairan yang masuk ke tubuh mereka melalui infus yang jarumnya tertancap di punggung tangan mereka. Seperti teriris rasanya dalam hati, tiba-tiba air mata menetes. OMG I make mistakes, secepat mungkin aku keluar ruangan itu, Sekolahku yang dikelola oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Chapter Makassar. Kuhapus benda bening yang keluar dari ujung mataku, rasa malu kemudian menyelimuti seluruh hati ini, mereka kuat, tak pernah putus asa, mereka terus melalui hari-hari mereka dengan harapan, dengan perjuangan, padahal apa yang mereka hadapi sangat berat, mereka masih begitu kecil. Malu rasanya yang sudah segede ini terkadang merasa kalah dengan cobaan hidup, merasa ambruk dan kemudian diam tak berbuat apa-apa. Kutarik nafas dalam-dalam mempersiapkan senyum terbaik kemudian masuk kembali ke ruangan itu.

***

2015

Sudah menjadi kebiasaan dan selalu ada keinginan untuk menyapa mereka, mengetahui kabar terbaru, dan selalu merasa bahagia jika ada yang dinyatakan sembuh. Namun tak jarang sedih melanda ketika melihat postingan facebook Kak Nurul Volunteer tetap di YKAKI Chapter Makassar yang sehari-harinya menemani anak-anak di sekolah dan di rumah singgah. “Selamat Jalan Pejuang Kanker” tak jarang kalimat itu terposting, dan saya hanya dapat mengirimkan doa. Terbanyak wajahnya, terbayang wajah keluarganya, terbayang setiap usaha dan perjuangan tanpa lelah yang telah ia lalui, namun Tuhan lebih tahu yang terbaik buatnya.

Ini adalah Liburan Semester yang cukup padat, banyak kegiatan yang harus saya laksanakan, dan tentunya janji bertemu dengan anak-anak hebat penuh inspirasi harus segera terealisasi. Saya pernah ingat selalu bertanya kepada kak Nurul apa yang bisa saya bantu untuk yayasan dan untuk adik-adik selain datang menemani bermain dan belajar? KaK Nurul hanya tersenyum. Hari ini kedatangan saya ditemani teman-teman dari Kompas TV Makassar. Sebelumnya saya sudah meminta ijin melalui Kak Nurul apakah boleh kegiatan anak-anak di Rumah Singgah di liput media, Alhamdulillah mendapat respon baik dari pihak pengelola.

Sebelum berangkat ke Rumah Singgah, saya dan Usman teman dari jaman SD menyempatkan diri untuk ke Sekolahku yang ada d RS Wahidin, di sana kami menyempatkan diri untuk bermain dan melihat aktivitas anak-anak pejuang kanker. Kali ini tentunya tidak pakai nangis, mata saya berbinar melihat semangat mereka, banyak energi positif yang saya lihat tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup, fighting !!. Tiba-tiba seorang anak memeluk ibunya.

“Bu, sayakan sudah Bu” dia memeluk ibunya erat-erat. Sang ibu menatap seseorang berpakaian serba putih yang membawa beberapa kertas dan mungkin peralatan lab yang digunakan untuk mengambil sampel darah.

“Iah, kakak sudah kemarin, ini giliran adek mungkin, kakak nggak kok” ibunya membelai rambut sang anak. Saya sedikit bingung awalnya dengan pemandangan ini, dan akhirnya mengerti bahwa ada ketakutan yang muncul setiap mereka melihat petugas berseragam putih dan mereka paham bahwa setelah itu mereka akan menjadi sasaran alat suntiknya. Iah dalam masa pengobatan baik sebelum maupun sesudah proses chemoteraphy beberapakali mereka akan diambil sampel darahnya, ada yang tiap hari ada juga yang 2 hari sekali, tergantung kebutuhan pengobatan. Lemas badan ini tiba-tiba melihat jarum suntik.

“Eh kakak, ayoo main lagi yuk, nyusun lego” tiba-tiba aku memecah kesunyian, mencairkan rasa takut yang sangat terlihat di wajahnya. Dia tiba-tiba tersenyum lagi. Begitu mudahnya dia tersenyum, semakin membuatku terkagum-kagum akan ketegaran pejuang-pejuang ini.

Setengah 12 siang, kami meninggalkan sekolahKu menuju ke rumah singgah. Di halaman rumah singgah, mobil ber-branding KOMPAS TV MAKASSAR sudah ada di halaman rumah singgah, mereka telah diterima oleh Ibu Kepala Rumah Singgah.

“Sudah dari tadi?” tanyaku, sambil memperhatikan seluruh kruenya bersiap-siap untuk membuat liputan.

“Baru kok Jan” Kak Dede Menjawab pertanyaanku.

Tak banyak yang bisa aku bantu, kecuali mengobrol bersama orang tua anak-anak penderita kanker yang menggunakan fasilitas rumah singgah sebagai tempat sementara ketika mereka berada dalam peoses pengobatan. Rumah singgah yang cukup besar ini lengkap dengan segala fasilitas belajar dan bermain, ruang tidur yang cukup nyaman bagi anak-anak dan orang tua mereka. Oh iah kalian boleh kok jalan-jalan ke sana, mengunjungi adek-adek yang telah selesai pengobatan di RS sembari mungkin ingin menjadi donatur. Tak mesti berpikir bahwa harus donatur dalam bentuk materi. Donatur senyum, donatur tawa, dan donatur waktu menemani adek-adek di sana juga sangat dibutuhkan. Nanti Kakak-kakak volunteer di sana beserta ibu Rumah Singgah akan memberitahukan apa yang boleh dan apa yang gak boleh dilakukan di sana, tentang jam istirahat, berapa lama mereka boleh bermain pokoknya semuanya sangat diatur dan diawasi oleh ibu kepala Rumah Singgah. Telaten banget pokoknya. Demi kesembuhan dan kesehatan adek-adek yang tinggal di sana.

Tapi kemudian ada wajah-wajah sedih dan sedikit tertekan yang aku dapati. Iah orang tua mana yang tidak sedih jika melihat kondisi anak mereka. Terlebih lagi orang dewasa yang tentunya paham akan definisi dan makna rasa sakit serta pengorbanan yang harus dilakukan. Tapi ketika aku melihat wajah-wajah mungil yang masih bisa tersenyum itu selalu muncul harapan dan keyakinan besar bahwa mereka bisa sembuh.

Mungkin ini kemudian menjadi PR buat saya dan volunteer lainnya, untuk menghadirkan motivator yang kemudian bisa membesarkan hati orang tua serta memberikan keyakinan agar mereka tidak berputus asa dalam usaha. Ini sepertinya sulit. Dorongan moril ternyata jauh lebih susah di dapatkan.

“Sepertinya saya harus mengajak adik sepupu saya dan orang tuanya datang kesini” kak Indah salah satu krue Kompas Tv tiba-tiba mengangkat bicara.

“Maksudnya kak?” akupun mengerutkan kening.

“Dia adalah pejuang kanker, leukimia, sejak kecil dan akhirnya bisa survive dan sembuh. Sekarang dia sudah kuliah di salah satu universitas di Makassar. Saya begitu ingat bagaimana perjuangan orang tuanyanya, doa yang tak putus, usaha berobat hingga akhirnya sepupu saya itu sembuh” Kak Indah melanjutkan

“Kehadiran mereka mungkin bisa menjadi oase bagi orang tua pejuang kanker di sini untuk tidak berputus asa dalam berusaha” Kak Indah seolah-olah dia mengerti kegundahan yang ada di kepalaku. Memang benar ketika kita memiliki keyakinan maka akan selalu ada keinginan untuk maju, demikian pula dengan kesembuhan. Tidak mudah memang.

***

Kubuka halaman facebook tiba-tiba sebuah postingan kembali menyayat hati, postingan Kak Nurul ”Selamat Jalan Pejuang Kanker” . Sedih… salah satu malaikat kecil itu telah menyelesaikan bagiannya, menyempurnakan perjuangannya. Bertemu Penciptanya. Selamat Jalan…

 

Note : It’s really late post, I will fix it by post some picts, the connection doesn’t support to upload some picts.

 

 

Pelangi dari kami…. Untuk Desa Letta

IMG_5126

PELANGI dari Sahabat KITA

Pukul 08.00 pagi, keringat muai bercucuran beberapa kali saya memandang ke depan, bertanya-tanya dalam hati “kapan kita sampai ke tempat tujuan?” pertanyaan yang sama yang kemarin siang selalu terlontar kepada beberapa teman, menatap jalan setapak yang berbatu semakin menanjak dan menanjak, bedanya hari ini sedikit lagi kami sampai di ujung gunung, yah…. tujuan kami adalah air terjun, yang konon katanya ada tiga tingkat begitu cerita kak Warid salah satu relawan di Komunitas Belajar Ceria Sahabat KITA. Entah ceritanya benar atau tidak, yang jelas kemarin dia juga sempat berkata kalau Desa Letta ini begitu jauh di atas Gunung, “tinggal bayar seribu rupiah kita bisa nyentuh langit” begitu dia menghiperbolakan deskripsinya tentang Desa Letta. Tapi benar saja sih, sepanjang jalan yang saya ingat hanyalah menanjak, menanjak, dan menanjak hingga ke ujung, dan langitpun terlihat semakin jelas, terang, tak terhalang pepohonan.

IMG_5063

Perjalanan menuju air terjun

“Oke kakak-kakak kita sudah sampai !” teriak kak Niar yang memang sedari tadi berada di barisan paling depan, suara gemericik air mulai terdegar, suara arus aloran air juga semakin keras. Saya mulai tersenyum sambil melap keringat dan mempercepat langkah.

“Ayo kak Jan, seng usah lihat kanan kiri ayo kita kejar mereka” Bey salah satu relawan yang berasal dari Ambon memberikan semangat.

“Ayo ayo…. !!” Mudin dan Joko juga tidak tinggal diam, dia ikut-ikutan berteriak sambil berlari, di susul Alfian yang ikut-ikutan berlari. Oh iah mereka berempat adalah perantau, sudah hampir dua tahun mereka di Kabupaten Pinrang tergabung dalam kegiatan Sarjana Penggerak Pedesaan program dibawah Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bey Asal Ambon, Joko asal Jakarta, Mudin asal Medan dan Alfian asal Lombok. Ini kali pertama saya bertemu dengan mereka dan ini adalah kegiatan pertama mereka setelah ikut bergabung dalam relawan Sahabat KITA.

Oh iah hampir lupa, ini sebenarnya liburan semester pertama saya setelah melanjutkan pendidikan di jenjang S2, momen-momen liburan adalah momen yang biasanya sangat istimewa bagi saya, karena saya biasanya memilih pulang ke Makassar kemudian ke Pinrang, tanah kelahiran saya. Bertemu dengan teman-teman dan pastinya menyibukkan diri dengan kegiatan sebagai volunteer di komunita Sahabat KITA. Komunitas lokal yang masih berusia belia, 2 tahun, namun telah memberikan banyak arti bagi kami yang tergabung di dalamnya. Komunitas yang terbentuk atas kesadaran akan pentingnya dorongan moril dan semangat dan keprihatinan atas pendidikan Di indonesia utamanya di daerah-daerah terpencil. Komunitas yang memberikan tempat bagi generasi muda untuk belajar dan berbagi pengalaman. Singkat cerita di sinilah saya bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai profesi yang menetap di kabupaten Pinrang dan sekitarnya. Anak-anak muda dengan semangat yang berapi-api dalam proses kreatifnya. Memberi dan menerima dalam kesederhanaan dengan tujuan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. (Plok plok plok… aku bertepuk tangan sendiri merasa bangga…hahahaha). Nah hari ini adalah salah satu kegiatan rutin kami namanya PELANGI (Peduli Anak Negeri) yaah mungkin karena orang biasanya tersenyum ketika melihat pelangi, atau karena pelangi selalu indah dengan berbagai macam warnahnya sehingga kami datang dengan maksud menjadi pemberi senyum dan memberi warna bagi mimpi anak negeri.

IMG_5082

Ini yang kemudian menghapus lelah kami

 

IMG_5117

Di antara Ibu Guru dan Banker

 

Berdiri di atas batu, menatap mereka yang mulai melompat dan bermain air, tak ingin ketinggalan kubuka pula sepatuku, meletakkannya di atas salah satu batu yang besar, ikut bermain air bersama mereka, teman-teman seperjuangan, ah mereka bukan teman, lebih dari itu mereka saudara yang sama-sama berjalan ke arah yang lebih baik. Ini akan jadi pagi yang menyegarkan sebelum kami memulai perjalanan pulang yang saya jamin akan spend so much energy ! sayapun memilih duduk di atas batu, menatap sekeliling iah benar, tidak di sangka saya bisa sampai di desa ini, desa yang tinggal bayar seribu udah nyentuh langit, hahahaha…. teringat kembali perjalanan panjang kemarin pagi. Dimulai dari kumpul di rumah, memulai perjalanan 40km jalur poros Pinrang – Polewali ( Sulawesi Barat) dengan menggunakan motor, kemudian memotong masuk ke arah PLTA bakaru kurang lebih 25 km menanjak-menanjak dan makin menanjak ke atas, hingga ujung jalanyang mengharuskan kami menitipkan motor d rumah warga untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

1

Siap-siap berangkat ke lokasi

“Makan siang dengan indomie rebus selesai, saatnya melanjutkan perjalanan” Kak Subhan mulai berteriak entah teriakan senang atau pasrah mengetahui bahwa medan yang seharusnya bisa dilalui setengahnya dengan naik ojek tidak dapat dilalui karena jalanan licin efek hujan deras semalam, oke ini bukan ojek atau gojek yah tema-teman tetapi motor yang memang sudah dimodifikasi untuk track menanjak dengan jalan berbatu yah mirip-mirip track motor croos lah yang semakin menanjak ke atas gunung. Satu per satu teman-teman memandang ke arah saya, saya mengerti kekhawatiran mereka utamanya yang sudah berteman sejak jaman-jaman SMP.

“What? Kenapa pada mandangin saya, ayo kita jalan… “ saya memecah keheningan dengan mulai mengangkat ransel saya dan memegang botol minum di tangan.

“Kamu yakin?” Ijad bertanya.

“Sudah sejauh ini, masa saya menyerah” sekalipun saya tidak tahu sejauh apa dan seperti apa medan yang akan ditempuh.

“Pokoknya kalau capek bilang ya” kak Warid ikut nimbrung.

Saya langsung mengancungkan jempol. Saya tahu batas kemampuan saya, ini adalah medan tersulit yang akan saya lalui setelah sekian lama tidak ikut kegiatan pencinta alam lagi bahkan walk climbing karena kecelakaan yang saya alami saat SMA Kelas 2 dulu. Iah banyak hal yang tidak dapat saya lakukan ketika itu termasuk menari toraja di atas gendang, berlari kencang karena trauma atau takut kaki ini masih belum kuat menopang berat badan dan tekanan yang diberi. Tapi sudah sejauh ini, bagaimana mungkin saya menyerah.

 

CYMERA_20150208_221938

Wajah-wajah semangat memulai perjalanan

CYMERA_20150203_104914 - Copy (3)

“Pelan-pelan saja jalannya Jan, kita menunggu kok” Kak Subhan tiba-tiba nyenggol dari belakang membuyarkan lamunanku. Iah mereka tidak akan meninggalkan saya. Saya tahu ini hanya saja ada ketakukan bahwa saya akan menyusahkan nantinya. Saya sesekali melihat jam di HP 14.15, sudah dua jam kami berjalan kaki menyusuri jalan beraspal, jembatan kayu, jalan tanah berbatu, mulai menanjak menanjak dan terus menanjak. Ini adalah salah satu tanjakan yang paling curam, satu per satu berhenti menarik nafas, kadang ingin tertawa, jika melihat muka yang sudah merah terkena pana matahari. Kayu di tangan kananku membantu menopang tubuh yang berjalan dengan dicondongkan ke depan sekitar 15 derajat. Baju mulai basah melihat aliran sungai di kiri jalan setapak rasanya ingin nyebur aja mandi.

CYMERA_20150203_104914 - Copy (4)

“Masih jauh kak?”

“Kalau suara aliran sungai sudah tidak terdengar berarti udah dekat, jan” kak subhan menjawab sambil menenguk air dari botol minumnya. Saya kembali melihat jam, sudah 3 jam kami berjalan kaki, dan suara aliran air sungai masih terdengar jelas. Panas terik matahari rasanya tidak berubah sekalipun matahari sudah mulai bergeser ke Barat. Sepertinya ini masih jauh, kupercepat langkahku menyusul Kak Nunung dan Kak Dani yang berjarak sekitar 10 meter di depan kami. Sayup-sayup masih kudengar suara aliran sungai. Tidak jauh kulihat ada rumah-rumahan kecil yang ternyata merupakan jembatan yang memotong aliran sungai oh mungkin ini ujungnya, dan kamipun mulai melihat beberapa orang menaiki motor modifikasinya sambil membawa hasil kebun. Entah mengapa mereka kelihatan terburu-buru, namun lama kelamaan pertanyaan itu mulai terjawab. Kulihat jam di HP, kurang lebih 4 jam sudah kami berjalan. Langit tiba-tiba gelap. Kak Dani yang tadinya duduk di rumah-rumahan jembatan tiba-tiba mengajak kami untuk langsung melanjutkan perjalanan. Kalau tidak kita akan kehujanan, sedikit lagi kita sampai kok.

 

CYMERA_20150208_173136 - Copy

Jembatan dan jalan berbatu

“hm… langitnya makin hitam kak” kataku

“Iah, ini mendung, sebentar lagi hujan” jawab kak Dani. Dan benar saja gerimis sudah mulai turun.

“Tapi makin lama makin gelap, saya tidak bisa lihat apa-apa” sambungku

“Duduk dulu jan, sini… jangan pingsan dulu” kak nunung memegang kedua tanganku.

Bisa jadi ini karena sehabis makan siang tadi kita langsung berjalan kaki, atau mungkin pengaruh panasnya matahari yang tiba-tiba berganti gerimis. Entahlah yang jelas mereka tidak ada yang meninggalkanku. Bahkan mereka beberapa kali menyetop motor yang mengangkut hasil kebun untuk mengantarku ke rumah terdekat sekitaran sini agar tidak terkena hujan sambil mengembalikan tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Menjelang magrib akhirnya semuanya sudah tiba di rumah tujuan, Rumah Ceria begitu kami menyebutnya.

“Selamat datang kakak-kakak” begitu Kak Niar rombongan yang baru tiba, ada yang menggigil, ada yang tertawa, ada yang langsung minta air hangat. Akhirnya saya sampai juga di desa Ini, Desa Letta, desa yang jumlah penduduknya lumayan banyak, terletak di atas pengunungan jauh dari akses teknologi dan transportasi sebagaimana yang biasanya kita temui di kota. Pertanyaan yang paling mendasar kemudian adalah bagaimna dengan akses pendidikan? Tak usah ditanyakan lagi, karena itulah kami datang ke desa ini. Desa yang merupakan paling maju dari dua desa lainnya. Tempat dimana satu-satunya Sekolah Dasar yang masih beroperasi bisa kita temui sekalipun dengan jumlah tenaga pendidik yang sangat jauh dari jumlah yang seharusnya. Bagaimana dengan media pembelajaran? Iah hampir sama dengan kondisi tenaga pengajarnya, media pembelajaran juga sangat memprihatinkan. Buku-buku yang seharusnya menjadi gudang ilmu bagi mereka jumlahnya sangat sedikit bahkan perpustakaan mereka tidak berisi buku apa-apa.

 

Jauh di dalam kelapa saya, saya bertanya, apakah pernah pemerintah menjangkau daerah ini? Melihat langsung keadaan ini? Atau mereka hanya sekedar membaca laporan kepala desa taua upt pendidikan dasar mengenai kondisi pendidikan di sini? Saya menepis prasangka dan pertanyaan itu. Ketika kemudian melihat anak-anak kecil berlarian yang saya tahu mereka pasti siswa SD.
“Saat mereka kelas 1 – 3 mereka masih bisa di desa mereka di ujung gunung ini, namun ketika mereka naik ke kelas 4 mereka harus meninggalkan desanya menuju desa ini karena tenaga pengajar di sana hanya hingga kelas 3 SD” begitu kiranya kak Niar menjelaskan pada saya seolah tahu pertanyaan yang muncul di kepala saya.

“Namun sekarang SD di Desa Letta ini kemudian menjadi satu-satunya sekolah yang beroperasi di sini” lanjutnya lagi.

 

Mereka berjalan bahkan rela berpindah tempat tinggal demi melanjutkan pendidikan mereka ketika naik kelas 4, sungguh tekad yang kuat. Saya tidak pernah membayangkan ketika seusia mereka, apakah tekad dan keinginan saya sekuat mereka. Alam menjadi teman, sahabat, sekaligus guru mereka. Semanagat mereka harus tetap dijaga, ini menjadi tanggung jawab kita untuk membantu menyediakan sarana yang mereka butuhkan. Menjadi kakak inspirasi, ikut mengajar di sekolah mereka di hari-hari tertentu hingga mengumpulkan dana dan bantuan berupa buku dan alat tulis. Mereka punya keinginan keras, makanya kita harus menjemput keinginan itu. Toh ini kemudian menjadi tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang pernah bahkan masih mengenyam pendidikan yang jauh lebih layak dari mereka.

 

CYMERA_20150203_104914 - Copy

 

“Kami sudah ke sekolah tadi Jan, Mereka mengisi sebagai guru loh” kak Niar menunjuk ke arah orang-orang baru dan memang belum aku kenal.

“Mereka anak-anak perantau yang bertugas sebagai Sarjana Penggerak Pedesaan, dari berbagai daerah, ayok kenalan…” lanjut kak niar memperkenalkan kami.

 

Semakin malam obrolan kami semakin memuncak, berbagai issue kita perbincangkan dari pendidikan, politik hingga foto prewedding, OMG hahahahaha…. Besok adalah jadwal kami membenahi dan menyerahkan bantuan buku untuk menambah Perpustakaan Ceria Milik Sahabat KITA yang dipercayakan untuk dikelola oleh ibu pemilik rumah, senang rasanya beliau menceritakan antusias anak-anak datang untuk membaca buku dan mulai bertanya apa, mengapa, bagaimana pertanyaan-pertanyaan yang tidak diduga sebelumnya.

”Ah sepertinya ini PR buat kakak-kakak Sahabat KITA untuk berbagi ilmu untuk menjawab rasa keingintahuan dan penasaran mereka tentang apa yang mereka baca sebelumnya” ucapku sambil tertawa.

 

“Kakak-kakak sepertinya sudah yah acara main air kita” kak Niar memberi komando.

“Sudah semakin siang, jangan sampai kita terlambat untuk memulai perjalanan pulang” lanjutnya lagi. Setelah melakukan serah terima buku, kamipun pamit ke pemilik rumah, mengangkat barang bawaan masing-masing, dan siap-siap untuk pulang.

 

Are you ready Jan??” tiba-tiba seseorang bertanya.

“hahahaha…. saya siap, ini sudah lebih fit dari kemarin” jawabku lantang.

Sampai jumpa lagi Desa Letta,. Iah kami punya PR untuk anak-anak di Sana. Teruslah berjuang, raihlah mimpi kalian, jangan putus asa atas segala kekuarangan yang kalian temuai. Karena selalu ada jalan bagi siapa saja yang mngejar mimpinya.

 

 

 

 

Note : It’s really late post. Dedicatd for all the volunteer of Sahabat KITA

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello Jogja… Part 2

Sore itu, kami berempat dalam perjalanan menuju Pinrang, Saya, Nayah, Usman dan Icha. Hm…dalam hati saya sebenarnya was-was, ini adalah hari pengumuman penerimaan mahasiswa pascasarjana UGM, well pelan-pelan tanpa ngomong apa-apa saya mengakses website ugm, memasukkan nomor formulir pendaftaran, dan….. OMG itu nama saya, Selamat anda lulus, segera melakukan pendaftaran ulang, iseng-iseng saya screen shoot dan mengirimkan lewat bbm ke cewek yang duduk di samping saya.

“Ah….. janna, congrats sayang” suara nayah tiba-tiba melengking di telinga saya.

“Ah…bakalan ditinggalin jauh ini….” sambungnya lagi. Saya hanya membalas dengan ketawa cengengesan. Berarti pulang ke pinrang ini sekaligus buat packing dan mengecek beberapa buku yang seharusnya saya bawa.

14 Agustus 2014 ditemenin sahabat seperjuangan sejak SMP, Fitrawan umar yang juga udah kelar liburan semesternya kami berangkat ke Jogja. Oh Iah lupa, Fitrawan ini adalah mahasiswa pascasarjana UGM juga yang you know what? Satu tahun pas sari hari ini dia bakalan menikah dengan sahabat saya Nayah…hahahaha.

Hello again Jogja, be nice please… let me enjoy this city and my campus life. Minggu pagi sepertinya hari yang cerah buat refreshing sebelum benar-benar memasuki campus life mungkin ada baiknya kalau kita ke Borobudur dulu. And finally berangkatlah saya dengan Fitrawan menuju Borobudur menembus dinginnya udara pagi. (i will post the story about it)

Ini adalah hari pertama masuk kampus, masih perkenalan awal tentang minat atau konsentrasi yang akan dipilih nantinya, apakah akan tetap MAIR atau pindah ke konsentrasi lainnya yakni GTD (Global Trade Diplomacy) dan GHD (Global Humanitarian Diplomacy). Jadi FYI saya mengambnil konsentrasi MAIR (Master of Art in International Relations.

Besoknya kami akan memulai serangkaian orientasi mahasiswa baru, semacam perkenalan dengan lingkungan kampus termasuk dengan dosen-dosen serta beberapa perjalanan ke pusat-pusat studi yang dikelola langsung di lingkungan jurusan HI. Ada satu pengalaman buruk yang kemudian bagi saya ini telah menjadi image yang orang lihat dari mahasiswa Timur utamanya kampus saya terdahulu. Dalam bincang akademik saya kemudian mengancungkan tangan untuk bertanya yah tentu saja kami masih ditanya kembali nama dan kampus asal. Seorang dosen yang untungnya tidak saya ingat namanya dan memang tidak pernah mengajar saya selama dua semester perkuliahan teori nantinya tiba-tiba berkata “kamu dari UNHAS?, kampus yang sangat sering demo dan tawuran” saya tersenyum kecut, salah satu dosen wanita yang pada akhirnya nantinya menjadi pembimbing thesis saya segera memotong “Silakan janna, pertanyaannya” .

***

Apa benar lingkungan akademik hanya mengenal kampus merah ini sebagai kampus tawuran dan sering demo, mungkin mereka kurang membuka mata atas prestasi yang juga dimiliki kampus ini, jujur saya meresa sedikit terganggu dengan kalimat itu, iah saya pernah ikut demo penolakan BHP untuk kampus, dan beberapa aksi damai mengenai Penegakan HAM. Saya paham tentang nilai-nilai dan tuntutan yang ingin disampaikan oleh mahasiswa ketika turun ke jalan, ke depan gedung DPRD Provinsi atau di depan kampus. Mereka telah menempuh banyak cara untuk bertemu dengan pemilik otoritas yang pada akhirnya mentok dan mengharuskan mereka turun di jalan. Mereka menyuarakan suara kaum minoritas. Sayangnya bagi sebagian besar orang yang mengkritisi hanya karena melihat kulit-kulitnya saja. Jika pada akhirnya aksi itu berakhir ricuh antara mahasiswa dan pihak kemanan mungkin ada provokator yang beberapa kasus memang terbukti bukan mahasiswa kampus ini yang memicu pelemparan dri kubu mahasiswa ke arah pihak keamanan. Atau mungkin jika pada akhirnya memacetkan jalan hingga berjam-jam mungkin begitulah cara mereka memperlihatkan kekuatan mereka people power.

Tak hanya ada hitam atau putih tapi daerah abu-abu selalu ada dalam politik. Tanpa mahasiswa dengan idealismenya siapa yang kemudian akan menjadi pihak yang mengontrol jalannya pemerintahan jika pada akhirnya semua yang ada kemudian bermain dalam ranah kepentingan. Toh di tahun 1998 keberanian mahasiswalah yang kemudian menggulingkan pemerintahan otoriter yang saya yakin banyak pihak mengecam dan memujanya. Iah tergantung kepentingannya. Jadi apakah kita kemudian akan tetap menyalahhkan mahasiswa yang terbakar oleh idealisme mereka, oleh fanatisme pemikiran marxis tentang kelas penguasa dan proletar. Berbahagialah mereka yang masih memiliki keberanian dan mau berpanas-panasan menyuarakan kepentingan kaum minoritas, penggusuran paksa, pemerataan pendidikan, mereka hanya memilih cara-cara yang sedikit banyak bisa menghasilkan chaos.

Cepat atau lambat banyak diantara mereka yang akan beralih ke cara-cara yang lebih edukatif, atau mengutamakan pemahaman tentang humanitarian dan tidak bersikap koersif saya percaya itu. Sebagian besar mereka yang pernah turun ke jalan selalu memiliki kesamaan persepsi yakni kekhawatiran mereka tentang negara. Cinta mereka yang besar akan tanah air ini. Biarkanlah mereka melalui prosesnya, generasi muda memang seharusnya berapi-api jangan dikungkung seperti perhiasan mahal, biarkan mereka bersuara. Generasi muda indonesia adalah anak-anak yang cerdas.

“Jadi bagaimana menurutmu Janna?” Pertanyaan kak Gusti membuyarkan pikiranku.

“Apa kak?, hah… itulah image yang dilihat, tapi cobalah lihat lebih dalam mahasiswa Timur Indonesia selalu bisa tahan banding sepersekian kali dan selalu bersinar dimanapun mereka berada”

Pernyataanku menutup perbincangan kami di kantin siang itu.

Note : actually there so many Photos that i will put in this post, but my internet connection is bad, i will complete it later…

Hello Jogja…. part 1

Juni 2014 akhirnya setelah sepuluh tahun lebih, bisa menginjakkan kaki kembali di kota ini, tak banyak yang aku ingat dari perjalanan mengunjungi kota-kota besar di pulau Jawa yang dulu saya dapatkan sebagai reward juara satu dalam lomba kreativitas Siswa Teladan Tingkat SMP se-Sulawesi Selatan tahun 2003. Menjadi peserta termuda, tercerewet, tapi bukan yang termanja, berada di antara orang-orang special yang menginspirasi dan saya sebagai salah satu anak daerah selalu merasa awesome karena mereka mengenal saya (hahahaha… narsis). Satu yang paling saya ingt ketika berada di Jogjakarta kala itu, setelah diterima oleh Rektor UGM kala itu, dan mengikuti beberapa rangkaian bincang pendidikan di Balairung/rektorat UGM saya sempat berjalanan-jalan di sekitaran Balairung.

“Universitas ini adalah salah satu yang terbaik di Indonesia sepengetahuan saya, seingat saya beberapa orang terbaik di daerah kelahiran saya melanjutkan sekolah di sini. Saya harus bisa nantinya terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas ini kelak” ucapku ke Kak Titie, siswa SMA asal Kabupaten Majene. Dia salah satu peserta studi banding kami. Kami berjumlah 8 orang, 6 siswa SMP dan SMA dan dua orang pendamping dari kementerian pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

“Janna….jan” kak Gaffar membuyarkan lamunanku, dia tertawa melihatku di pintu kedatangan bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Dia senior Fakultas Teknik di UNHAS yang sekarang melanjutkan pendidikan S2nya di UGM.

“Selamat datang di Jogja, pertamakali ke sini?” tanyanya lagi.

“ini yang kedua kalinya kak, tapi sudah lama banget” jawabku sambil menarik travel bag persiapan 3 minggu di sini. Iah kedatanganku kali ini untuk mengikuti beberapa tes untuk persyaratan mendaftarkan diri ke program Pascasarjana Hub. Internasional UGM.

“Sudah daftar ACEPt dan PAPs?”

“ACEPtnya sudah kak, PAPsnya belum, menunggu gelombang selanjutnya, harus lulus sekali tes ini, biar masih bisa daftar untuk angkatan 24” jawabku

Sekitar 30 menit perjalanan bandara ke tempat tinggalku nantinya, tepat di kawasan kampus UGM, memasuki wilayah Fakultas Kedokteran Gigi, hayya, ini dia Kost Toko Bali yang nantinya akan menjadi tempat tinggal saya selama kuliah di Jogja, tentunya setelah lulus tes masuk hahahaha…

Bukan janna namanya kalau cuman melongo dan baca buku di kamar buat persiapan tes, i’m not a nerd person, I always need refreshing and killing time even just to see something new. Here we go…

Alkid, atau alun-alun kidul menjadi destinasi pertama, sangat jelas diingatan saya bahwa di tengah lapangannya ada dua buah beringin besar, dimana orang kemudian berusaha berjalan di antaranya ada yang berhasil ada yang tidak. And you know what? I have to try it too.

Percobaan pertama, saya berhenti di tengah-tengah belum sempat melintasi kedua pohon beringinnya saya tiba-tiba kepengen membuka tutup matanya langsung. Kembali ke bagian utara tepat di bawah tiang bendera kemudian memperhatikan sekeliling, bertanya-tanya tentang mengapa kemudian orang-orang melakukan ini, apakah hanya sekedar ingin mencoba ataukah merek percaya tentang mitos tempat ini. Akhirnya saya menjernihkan pikiran, kata orang dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, setiap masuk ke wilayah baru seharusnya menghargai adat dan budaya orang sekitar, anggap aja ini perkenalan saya dengan Jogja yang punya tagline “istimewa” . Ibarat kata saya lagi ucapin salam ketika masuk rumah orang, punten, assalamualaikun, semoga niat baik ke kota ini terlaksana. Mungkin memang itu yang selalu saya yakini sejak menjadi perantau selepas SMA dulu, Makassar, jakarta, Samarinda, dan Insya Allah Jogja…

“Coba lagi yuk” kataku sambil mengambil kain penutup mata. Melangkahkan kaki dengan mantap, sedikit agak cepat, dan tidak ada rasa ragu dalam hati seperti percobaan pertama.

“Stop…!!” Fitrawan memberikan aba-aba

“Kenapa?” tanyaku.

“Udah buka aja penutup matanya” jawabnya singkat. Aku membuka kain penutup mata, melihat ke kiri kanan, kok sepi, kemudian berbalik ke belakang.

“Eh… inii aku nembus yah, ngelewatin dua beringin ini? Hahahahaha……” aku tertawa senang, sambil liatin muka fitrawan yang sedari tadi nyoba gak berhasil-berhasil. Ketagihan juga nyobainnya sampai berkali-kali, terhitung 3 kali berhasil melewati dengan sempurna.

Banyak hal yang membuat saya jatuh cinta dengan kota ini, banyak jal baru yang saya temui. Malam itu, salah satu senior SMA dulu mengajak untuk melihat pameran seni yang digelar di Taman Budaya. Saya terkagum-kagum dengan apresiasi orang-orang di sini tentang seni, Di artjog 2014 ada banyak hal menarik yang saya lihat, karya senirupa, lukisan dan benda-benda seni lainnya.

Oke cukup main-mainnya, kembali fokus belajar dan beberapa hari ke depan saya akan tes. Bolak-balik Pusat Bahasa dan Fakultas Psikologi UGM. Semoga hasilnya memuaskan. Amin.

Hasil ACEPt dan PAPs sudah keluar saatnya melengkapi berkas mengisi form pendaftaran dan mengantarkan ke bagian akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. OMG, saya bikin kesalahan dalam pengisian formulir, panik iah panik pakai banget, bagian yang harus saya isi dengan nama lengkap saya isi dengan nama universitas asal saya. What i have to do? Ini belum jadi mahasiswa aja udah nyusahin, mungkin gitu yang bisa dikatakan oleh orang-orang di universitas yang mungkin saja tidak mengutamakan pelayanan, tapi kesan pertama saya di kampus ini berbeda, melapor ke bagian IT di pusat Akademik Universitas, menunggu sebentar kemudian dibantu untuk memperbaiki data yang saya entry pada saat mengisi formulir online, sampai di printkan segala, hahahaha. Makasih banyak loh Pak, Bu, bantuannya.

Oke, ini adalah kali pertama saya masuk ke wilayah fakultas SOSPOL UGM. Langsung ke bagian akademi bertemu dengan Mas Herry. Menyerahkan hardcopy berkas pendaftaran saya.

“Sampai ketemu bulan depan, semoga lulus yah”

“Amin…” ucapku dalam hati, dan saatnya balik ke Makassar sambil menunggu pengumuman bulan depan. Btw thank buat yang sibuk-sibuk nganterin daftar, urus berkas, ajakin jalan-jalan. Kak Gaffar, Fitrawan, Kak Arham, Kak Arie…. wah baru nyadar semuanya cowok hahahaha….

 

 

 

 

 

Antara Aku Kau dan Hujan…. (Sebuah Cerita)

1978904_10202779161056804_586350376_n

Sudah lama, ntah bertahun-tahun lalu, saat terakhir kami bermain hujan, bukan disengaja tetapi karena sebuah keharusan. Harus pergi dan harus pulang, dan ditemani oleh derai hujan. Pukul 7.00 dia sudah ada di depan pintu.
“Mendung loh, buruan…kalau gak berangkat sekarang pasti kena hujan” ujarnya sambil memasang mantel. Aku masih sibuk memasukkan beberapa barang dalam tasku. Sesekali memandang kea rah jendela,
“Yah… hujan….”kataku dan dia hanya tertawa…
Bagaimanapun juga 7.30 pagi kami harus udah ada disana, dari tadi hp ku pun bordering dan sengaja tidak kuangkat, kutahu itu pasti dari teman-teman yang udah gelisah menungguku yang sampai hm…pukul 7.15 belum juga beranjak dari halaman rumah. Iah…hujan menahan kami, menahan kami untuk yang pertama kalinya. Dan kami hanya bisa berpandangan.
***

“Masih mau nunggu hujannya redah kah?” dia memulai pembicaraan. Aku masih saja mandangan langit sambil sesekali ngelihat jam.
“Pulang aja yuk, makin malam nih, sepertinya hujannya gak bakalan reda” ujarku
“Beneran, mau hujan-hujanan, ntar sakit gimana?” dia kembali bertanya
“Gak papa, udah capek banget soalnya, pengen rebahan” jawabku
“Ya..udah kalau itu maunya”
Dan kami kembali ditemani hujan.
“Woi… hujannya makin deras nih” dia memulai pembicaraan
“Biarin aja, gak mau singgah pokoknya” jawabku sambil ngerentangin tangan memandang ke langit.
“Dasar keras kepala, sakit jangan ngeluh yah”
***

“Ngapain?” dia bertanya
“Pemperhatikan tiap titik titik air yang jatuh dari langit, sebahagian langsung jatuh ke tanah, sebahagian lagi ketempat lain” jawabku sambil terus tersenyum di balik jendela.
“Terus ngapain senyum-senyum gitu?” tanyanya lagi
“Aku selalu suka akan hujan, ntah mengapa” jawabku simple.

Aku selalu suka akan hujan, buatku hujan seperti sebuah pesan yang datangnya dari sang pencipta, Ia memberitahukan bagaimana kuasaNya yang mampu menurunkan titik-titik air ke bumi yang bagi kita secara logika kita pahami sebagai suatu proses kondensasi uap air di atmosfer. Yang jika butirannya sudah semakin banyak akan berkumpul menjadi awan yang semakin berat dan semakin dingin dan akhirnya jatuh kembali ke bumi.

1383896_10202779164056879_29165348_n    1111
Iah begitulah sederhananya. Namun lebih dari itu. Hujan adalah pesan agar kita semakin memahami bahwa Dia memiliki kekuasaan yang sangat besar. Melalui Hujan Allah bisa memberikan kita augerah dan karunia. Namun melalui hujan pula, Allah sedang memperingatkan kita, akan kuasaNya ‘Kun fa yakun’, tak ada keraguan di dalamnya. Ketika Allah telah berkehendak, tiada daya atau upaya apapun yang bisa melawannya? Mungkin seperti itulah ketika kita melihat begitu banyak bencana yang terjadi dimana-mana akibat hujan yang turun tak henti-hentinya.
Terlepas dari itu semua, aku tetap selalu menyukai hujan. Buatku hujan bagaikan sahabat yang selalu siap mendengarkan kita bercerita. Tak ada complain tak ada ejekan. Ia akan selalu mendengar tanpa lelah. Hingga ia akan kembali pergi dan digantikan oleh pelangi yang kemudian memberikan kita senyuman.
Buatku hujan adalah topeng terbaik ketika kita sedih, aku selalu membahasakan seperti ini “Hujan Deraimu membasahi wajah, menyamarkan air mata”. Gak percaya???? Coba sajalah berdiri di bawah derasnya hujan, menangislah sepuasnya, dan lihatlah apakah orang lain bisa membedakan yang di wajahmu itu apakah derai hujan atau air mata.
Buatku di setiap derai hujan yang jatuh, ada cerita yang tersimpan. Senang, sedih, tawa, tangis, bahagia. DI setiap derainya yang jatuh akan memberi kehidupan baru atau mungkin menjadi awal untuk melupakan sesuatu atau bisa jadi menjadi saat yang tepat untuk mengenang sesuatu, mengenang cerita antara aku dan kamu. Cerita yang tak pernah kita ungkapkan ke orang lain. Cerita kita tentang hujan, tentang kuasa Tuhan.

10155683_10202779162416838_1208308295_n  1966860_10202779167376962_824043045_n

 

Bermain “mengejar” Layang-layang

Image

Yeahh… I got it… !!

“Mau kemana….???” Tetanggaku heran ngelihat aku buru-buru menutup pintu.

“Sawah om…” ujarku sambil mengangkat dan memperlihatkan tas kameraku

“Foto???” tanyanya lagi.

“hehehe..iah sambil main layang-layang “ jawabku sambil tersenyum lebar.

“cewek kok main layang-layang, Jan?” ucapnya sambil tertawa

Wajar saja kalau dia tertawa dan sedikit heran, karena dia tergolong tetangga baru yang gak ngelihat bagaimana aku tumbuh besar. Tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga serta lingkungan yang mayoritas anak-anakn sebayaku waktu itu adalah laki-laki membuat aku jauh lebih familiar dengan permainan laki-laki. Bermain kejar-kejaran, wayang (cacca dalam bahasa bugis), kelereng, bola dan layang-layang menjadi favorite ku hahahaha. Bahkan boleh dikata masa kecilku tidak pernah bersentuhan dengan mainan anak perempuan pada umumnya yaitu boneka.

Sambil berjalan kuperhatikan langit yang berwarna biru, dihiasi oleh sejumlah layang-layang yang berwarna warni. Dari kejauhan terlihat anak-anak yang berlarian di pematang sawah mengejar layang-layang yang putus akibat diadu oleh mereka yang menerbangkan layang-layang tersebut. kalau familiarnya dikenal dengan istilah “mappasigala kalajang” (bahasa bugis yang artinya mengadu layang-layang).

Bermain layang-layang atau dalam bahasa bugis makkalajang, kalau ditanya kapan terakhir bermain ? mungkin kelas 6 SD, waktu itu beberapa teman sekolahku sedang menyelesaikan tugas kelompok di rumah. Tentu saja moment bermain layang-ayang juga menjadi salah satu alsan mengapa tugas itu dikerjakan di rumahku. Hehehe…. Udah lama banget yah.. bahkan udah lupa nih gimana cara menimbang dan memasang benang di kedua sisinya, “ma’baka-baka” begitu anak-anak biasa kudengar menyebutnya.

Image

kira-kira layang-layang siapa yah yang akan putus…hahaha

“Nanna…..fotoka dulue, makkalajang…” Tiba-tiba teriakan seseorang membuyarkan lamunanku.

“Hahaha… dasar narsis” ujarku dalam hati sambil memasang lensa telezoom ke body kameraku.

Image

Ini nih..yang pengen banget difoto main layang-layang wkwkwkwk

Hahah bukan hanya aku yang sudah besar dan rindu bermain layang-layang, tetapi banyak orang dewasa yang juga asik menerbangkan layang-layang mereka. Emang sekarang adalah musim bermain layang-layang, biasanya pasca panen padi maka anak-anak akan semakin ramai bermain layang-layang. Petak sawah yang biasanya dipenuhi tanaman padi, kini menjadi lapangan luas tempat mereka bermain. Pemandangan yang sangat jarang kita lihat apalagi buat orang-orang yang hidup di kota-kota besar pastinya. Jangankan mencari sawah yang banyak, ruang terbuka hijaupun kadang sangat sulit kita dapatkan. Oke kita skip aja tentang kota dan ruang terbuka hijaunya. hihihi

Image  Image

Image

Kalau ini gak tahu ni capek main layang-layang apa galau layang-layangnya putus

Image

Gak dapat  layang-layang, yang penting senyum

Image

capek bro lari, tapi gak dapat juga layang-layangnya…hihihi

Buatku, bermain layang-layang sama dengan berlari-larian bersama teman-teman, gak peduli panas terik matahari, keringatan, yang penting kita akan lari terus beradu kecepatan mengejar layang-layang yang putus. Padahal kita bisa saja membeli layang-layang buat diri kita sendiri. hahaha inilahh seninya…. bermain “mengejar” layang-layang…. ^^ aku yakin, anak-anak yang sedang berlari di tengah sawah juga berpikiran demikian. hahaha…. sambil sesekali mengarahkan kamera ke anak-anak aku tersenyum. hahaha… kalau saja aku bukan cewek dan masih kecil, udah dari tadi nih saya ikutan lari ngejar layang-layang. hahah bermain “mengejar”layang-layang….. ^^