Antara Aku Kau dan Hujan…. (Sebuah Cerita)

1978904_10202779161056804_586350376_n

Sudah lama, ntah bertahun-tahun lalu, saat terakhir kami bermain hujan, bukan disengaja tetapi karena sebuah keharusan. Harus pergi dan harus pulang, dan ditemani oleh derai hujan. Pukul 7.00 dia sudah ada di depan pintu.
“Mendung loh, buruan…kalau gak berangkat sekarang pasti kena hujan” ujarnya sambil memasang mantel. Aku masih sibuk memasukkan beberapa barang dalam tasku. Sesekali memandang kea rah jendela,
“Yah… hujan….”kataku dan dia hanya tertawa…
Bagaimanapun juga 7.30 pagi kami harus udah ada disana, dari tadi hp ku pun bordering dan sengaja tidak kuangkat, kutahu itu pasti dari teman-teman yang udah gelisah menungguku yang sampai hm…pukul 7.15 belum juga beranjak dari halaman rumah. Iah…hujan menahan kami, menahan kami untuk yang pertama kalinya. Dan kami hanya bisa berpandangan.
***

“Masih mau nunggu hujannya redah kah?” dia memulai pembicaraan. Aku masih saja mandangan langit sambil sesekali ngelihat jam.
“Pulang aja yuk, makin malam nih, sepertinya hujannya gak bakalan reda” ujarku
“Beneran, mau hujan-hujanan, ntar sakit gimana?” dia kembali bertanya
“Gak papa, udah capek banget soalnya, pengen rebahan” jawabku
“Ya..udah kalau itu maunya”
Dan kami kembali ditemani hujan.
“Woi… hujannya makin deras nih” dia memulai pembicaraan
“Biarin aja, gak mau singgah pokoknya” jawabku sambil ngerentangin tangan memandang ke langit.
“Dasar keras kepala, sakit jangan ngeluh yah”
***

“Ngapain?” dia bertanya
“Pemperhatikan tiap titik titik air yang jatuh dari langit, sebahagian langsung jatuh ke tanah, sebahagian lagi ketempat lain” jawabku sambil terus tersenyum di balik jendela.
“Terus ngapain senyum-senyum gitu?” tanyanya lagi
“Aku selalu suka akan hujan, ntah mengapa” jawabku simple.

Aku selalu suka akan hujan, buatku hujan seperti sebuah pesan yang datangnya dari sang pencipta, Ia memberitahukan bagaimana kuasaNya yang mampu menurunkan titik-titik air ke bumi yang bagi kita secara logika kita pahami sebagai suatu proses kondensasi uap air di atmosfer. Yang jika butirannya sudah semakin banyak akan berkumpul menjadi awan yang semakin berat dan semakin dingin dan akhirnya jatuh kembali ke bumi.

1383896_10202779164056879_29165348_n    1111
Iah begitulah sederhananya. Namun lebih dari itu. Hujan adalah pesan agar kita semakin memahami bahwa Dia memiliki kekuasaan yang sangat besar. Melalui Hujan Allah bisa memberikan kita augerah dan karunia. Namun melalui hujan pula, Allah sedang memperingatkan kita, akan kuasaNya ‘Kun fa yakun’, tak ada keraguan di dalamnya. Ketika Allah telah berkehendak, tiada daya atau upaya apapun yang bisa melawannya? Mungkin seperti itulah ketika kita melihat begitu banyak bencana yang terjadi dimana-mana akibat hujan yang turun tak henti-hentinya.
Terlepas dari itu semua, aku tetap selalu menyukai hujan. Buatku hujan bagaikan sahabat yang selalu siap mendengarkan kita bercerita. Tak ada complain tak ada ejekan. Ia akan selalu mendengar tanpa lelah. Hingga ia akan kembali pergi dan digantikan oleh pelangi yang kemudian memberikan kita senyuman.
Buatku hujan adalah topeng terbaik ketika kita sedih, aku selalu membahasakan seperti ini “Hujan Deraimu membasahi wajah, menyamarkan air mata”. Gak percaya???? Coba sajalah berdiri di bawah derasnya hujan, menangislah sepuasnya, dan lihatlah apakah orang lain bisa membedakan yang di wajahmu itu apakah derai hujan atau air mata.
Buatku di setiap derai hujan yang jatuh, ada cerita yang tersimpan. Senang, sedih, tawa, tangis, bahagia. DI setiap derainya yang jatuh akan memberi kehidupan baru atau mungkin menjadi awal untuk melupakan sesuatu atau bisa jadi menjadi saat yang tepat untuk mengenang sesuatu, mengenang cerita antara aku dan kamu. Cerita yang tak pernah kita ungkapkan ke orang lain. Cerita kita tentang hujan, tentang kuasa Tuhan.

10155683_10202779162416838_1208308295_n  1966860_10202779167376962_824043045_n

 

Bermain “mengejar” Layang-layang

Image

Yeahh… I got it… !!

“Mau kemana….???” Tetanggaku heran ngelihat aku buru-buru menutup pintu.

“Sawah om…” ujarku sambil mengangkat dan memperlihatkan tas kameraku

“Foto???” tanyanya lagi.

“hehehe..iah sambil main layang-layang “ jawabku sambil tersenyum lebar.

“cewek kok main layang-layang, Jan?” ucapnya sambil tertawa

Wajar saja kalau dia tertawa dan sedikit heran, karena dia tergolong tetangga baru yang gak ngelihat bagaimana aku tumbuh besar. Tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga serta lingkungan yang mayoritas anak-anakn sebayaku waktu itu adalah laki-laki membuat aku jauh lebih familiar dengan permainan laki-laki. Bermain kejar-kejaran, wayang (cacca dalam bahasa bugis), kelereng, bola dan layang-layang menjadi favorite ku hahahaha. Bahkan boleh dikata masa kecilku tidak pernah bersentuhan dengan mainan anak perempuan pada umumnya yaitu boneka.

Sambil berjalan kuperhatikan langit yang berwarna biru, dihiasi oleh sejumlah layang-layang yang berwarna warni. Dari kejauhan terlihat anak-anak yang berlarian di pematang sawah mengejar layang-layang yang putus akibat diadu oleh mereka yang menerbangkan layang-layang tersebut. kalau familiarnya dikenal dengan istilah “mappasigala kalajang” (bahasa bugis yang artinya mengadu layang-layang).

Bermain layang-layang atau dalam bahasa bugis makkalajang, kalau ditanya kapan terakhir bermain ? mungkin kelas 6 SD, waktu itu beberapa teman sekolahku sedang menyelesaikan tugas kelompok di rumah. Tentu saja moment bermain layang-ayang juga menjadi salah satu alsan mengapa tugas itu dikerjakan di rumahku. Hehehe…. Udah lama banget yah.. bahkan udah lupa nih gimana cara menimbang dan memasang benang di kedua sisinya, “ma’baka-baka” begitu anak-anak biasa kudengar menyebutnya.

Image

kira-kira layang-layang siapa yah yang akan putus…hahaha

“Nanna…..fotoka dulue, makkalajang…” Tiba-tiba teriakan seseorang membuyarkan lamunanku.

“Hahaha… dasar narsis” ujarku dalam hati sambil memasang lensa telezoom ke body kameraku.

Image

Ini nih..yang pengen banget difoto main layang-layang wkwkwkwk

Hahah bukan hanya aku yang sudah besar dan rindu bermain layang-layang, tetapi banyak orang dewasa yang juga asik menerbangkan layang-layang mereka. Emang sekarang adalah musim bermain layang-layang, biasanya pasca panen padi maka anak-anak akan semakin ramai bermain layang-layang. Petak sawah yang biasanya dipenuhi tanaman padi, kini menjadi lapangan luas tempat mereka bermain. Pemandangan yang sangat jarang kita lihat apalagi buat orang-orang yang hidup di kota-kota besar pastinya. Jangankan mencari sawah yang banyak, ruang terbuka hijaupun kadang sangat sulit kita dapatkan. Oke kita skip aja tentang kota dan ruang terbuka hijaunya. hihihi

Image  Image

Image

Kalau ini gak tahu ni capek main layang-layang apa galau layang-layangnya putus

Image

Gak dapat  layang-layang, yang penting senyum

Image

capek bro lari, tapi gak dapat juga layang-layangnya…hihihi

Buatku, bermain layang-layang sama dengan berlari-larian bersama teman-teman, gak peduli panas terik matahari, keringatan, yang penting kita akan lari terus beradu kecepatan mengejar layang-layang yang putus. Padahal kita bisa saja membeli layang-layang buat diri kita sendiri. hahaha inilahh seninya…. bermain “mengejar” layang-layang…. ^^ aku yakin, anak-anak yang sedang berlari di tengah sawah juga berpikiran demikian. hahaha…. sambil sesekali mengarahkan kamera ke anak-anak aku tersenyum. hahaha… kalau saja aku bukan cewek dan masih kecil, udah dari tadi nih saya ikutan lari ngejar layang-layang. hahah bermain “mengejar”layang-layang….. ^^

Paddaros (Antara Mesin dan Tenaga Manusia)

1620537_10202731208298015_731292424_n

Paddaros
Captured by Janna

Waktu kecil dulu, Panen Padi adalah salah satu moment yang sangat saya tunggu-tunggu, bagaimana tidak, saat itulah saya dan teman-teman bisa bebas bermain di area persawahan sekitaran rumah. Tidah hanya itu, biasanya setelah aktivitas panen padi maka akan di lanjutkan dengan kegiatan syukuran hasil panen yang dikenal dengan istilah MAPPADENDANG. Bulan maret ini adalah merupakan musim panen padi di kota kelahiranku, Kabupaten Pinrang. Kabupaten Pinrang memang merupakan daerah Potensial untuk sektor pertanian dan memungkinkan berbagai komoditi pertanian (Tanaman Pangan, perikanan, perkebunan dan Peternakan) untuk dikembangkan. Ketinggian wilayah 0–500 mdpl ( 60,41%), ketinggian 500–1000 mdpl ( 19,69% ) dan ketinggian 1000 mdpl (9,90%).  Sekitar 50.459,2 Ha atau sekitar 25,72% dari total lahan yang ada merupakan area persawahan. Sehingga wajar saja jika Salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai daerah penghasil beras.

Panen Padi atau dalam bahasa bugis dikenal dengan istilah MADDAROS merupakan proses pemungutan (pemetikan) hasil sawah. Kalau sepengetahuanku sih, dari dulu kegiatan ini dilaksanakan secara gotong royong oleh sekelompok orang yang dikenal dengan istilah PADDAROS.  Sudah cukup lama saya tidak melihat kegiatan ini lagi, dan beberapa hari yang lalu akhirnya bisa menyempatkan diri untuk melihat lagi proses panen padi (MADDAROS). Awalnya sih iseng aja, nyempetin buat jalan-jalan pagi di sekitaran sawah di pinggir jalan, ternyata ada yang sedang melakukan panen padi. Hanya saja saya merasa ada yang lain dari aktivitas ini, dulunya proses panen padi akan dilakukian oleh banyak orang, dan mereka akan saling berbagi tugas. Ada yang memotong padi, ada yang menganggat potongan padi ke dekat mesin penggiling, ada yang merapikan hasilnya penggilingan ke dalam karung dll. Tapi kali ini yang kudapati hanya beberapa orang saja. Ih ternyata panen padi sudah semakin modern, para pemiik lahan/sawah banyak yang sudah berpindah dari tenaga manusia (paddaros) ke tenaga mesin  yang hanya menggunakan sedikit orang dan dapat menyelesaikan proses panen dalam waktu singkat.

Rasanya kegiatan panen padi sudah tidak seseru dulu, walaupun dulunya saya hanya bisa duduk memperhatikan aktivitas paddaros. Tetapi banyak hal yang bisa kita pelajari dari aktivitas mereka. Sekedar basa-basi sayapun bertanya kepada bapak yang berdiri di dekatku sambil terus teriak mengarahkan orang yang mengoperasikan mesin di tengah sawah.

“Pak ini berapa lama selesainya?” Tanyaku

“Sebentarji ini nak, ndak sampai ji sejam untuk sawah seluas ini” jawabnya sambil tersenyum

Saya kemudian terdiam, sudah lama saya mengetahui tentang mesin pemotong padi ini. Tetapi baru kali ini saya menyaksikan sang mesin beraksi di tengah sawah. Cepat, rapi, tak ada yang tersisa dan hanya menggunakan sedikit tenaga.

woi…. Manyamanyai, ajana..lotengga ladda….mapeca tu tanah e…!” teriak bapak tadi yang kalau di artikan kurang lebih seperti ini, “pelan-pelan saja, gak usah terlalu ke tengah karena tanahnya lembek” iah sih 2 hari yang lalu hujan. Bisa-bisa sang mesin gak bisa bergerak karena terjebak lubang dan tanah yang becek.

“Apanya lagi yang seru…” gumamku dalam hati. Namun sebelum beranjak dari tempatku berdiri sekelompok orang berjalan di belakangku. Hayyaaaaa…. Ini ia mereka yang aku cari, lengkap dengan pakaian lengan panjang, tutup kepala, masker dari kain menutupi hidung, sepatu bot, mereka berjalan menyusuri pematang sawah, jauh dan semakin jauh ke tengah.

67478_10202711282799890_2141189161_n

Menuju sawah

1795485_10202711266159474_862720684_n

Paddaros

1186891_10202711278679787_1385164387_n

Paddaros

Mereka adalah PADDAROS sepetinya mereka kebagian memanen padi di sawah yang jauh dari jalan. Dari kejauhan aku memperhatikan mereka dan sesekali kuangkat kameraku untuk mengabadikan mereka. Senang rasanya bisa melihat para Paddaros itu lagi. Tapi sayang kali ini aku tak bisa mengikuti mereka, benar-benar jauh ke tengah sawah yang hendak mereka tuju.

But don’t worry guys, cerita tentang Paddaros tidak hanya sampai di sini, saya udah merencanakan untuk ikut melihat keseruan mereka, dan kali ini saya gak sendiri. Bersama beberapa teman kami mencari mereka, mencari Paddaros yang sedang melaksanakan tugas mereka, Yup memanen padi. Sekalipun rada terlambat, tak apalah 16.30 WITA kami masih menemukan sekelompok Paddaros yang masih memotong padi. Kami turun dari motor, ikut berjalan menyusuri pematang sawah sambil tertawa bahagia. Bahagaimana tidak, sudah sangat langka melihat kegiatan ini, apalagi sebagian besar sawah sekarang hasilnya dipanen dengan menggunakan mesin. Bukan hanya kami yang tertawa, mereka juga tertawa saat melihat kami mengabadikan keseruan mereka.

1982168_10202731212098110_285688903_n

Paddaros mengangkat mesin penggilingan mereka

1509908_10202731188617523_1342049779_n

Paddaros Memotong Padi

998429_10202731205817953_850923130_n

Paddaros Memotong Padi

1957991_10202731215778202_263281954_n

Padi yang telah dipotong di angkat dekat ke mesin

  

Tak ada rasa capek terlihat di wajah mereka. Padahal mereka sudah memulai aktivitas itu dari pagi hari. Mereka baru menyelesaikan dua petak sawah, dan ini adalah sawah ketiga yang mereka panen, benr-benar penuh semangat. Memang benar jika dibandingkan dengan mesin pemotong padi, mereka jauh menghabiskan banyak waktu. Tapi siapa sangka kalau mereka tetap semangat dan terus melaksanakan tugas mereka.

14524_10202733977167235_214254186_n

Lihat senyum mereka

1965006_10202734001527844_1903811775_n

Bercandabersama paddaros hahahaha

1392832_10202733959446792_1237977437_n

Shofyan, K’Niar, Janna (me)
Captured by K’ Waried

Di antara mereka yang bertugas memotong padi, ada seorang bocah kecil yang membawa sabit dan karung kecil. Memotong padi yang masih tersisa di antara potongan padi yang sedari tadi telah dipotong oleh kelompok paddaros. Saya ingat betul bagaimana ekspresinya, antara lelah dan ingin cepat memotong semua sisa-sisa yang terlewatkan oleh paddaros tadi. Mengumpulkannya ke dalam karung kecil miliknya. Mappulung-pulung, itu yang saya tahu, sebutan bagi mereka yang memungut sisa hasil panen yang tidak diambil oleh para paddaros.

1978839_10202731184697425_1375016483_n

Si bocah di antara tanaman padi

10001496_10202731218258264_1319935165_n

Bersama sabit dan karung kecilnya

1011589_10202731191817603_318016978_n

Mencari yang terlewatkan oleh paddaros

Antara miris dan bangga. Miris karena hanya dia anak kecil di antara puluhan wanita dan lelaki dewasa yang ada di sawah ini. Bangka karena saya paham begitu besar keinginannnya untuk membantu orang tua dengan meluangkan waktu untuk ikut ke sawah. Sekalipun sesekali kulihatb ia berbalik memandang sekelompok anak yang sedang asik bermain layang-layang di petak sawah lainnya yang telah dipanen.

1959302_10202731200337816_880620547_n

Inginku….

Mungkin dalam hati dia berbisik “saya juga ingin bermain layang-layang seperti mereka” . Cukup lama saya memperhatikannya, setiap geraknya berusaha untuk saya abadikan. Ketika anak seusianya asik bermain, dia malah mengorbankan waktu untuk bekerja. Anak ini mengajarkan saya satu hal. Bahwa terkadang untuk sesuatu yang jauh lebih penting kita harus mengorbankan sesuatu bahkan zona nyaman kita sekalipun. Malu rasanya melihat dia yang mungki berusia 9 tahun sudah bisa memilih untuk membantu keluarga. Benar setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Dan hari ini saya menemukannya, di tengah hamparan sawah, di antara para paddaros, dari seorang bocah kecil yang tidak perlu menjelaskan apa-apa, yang hanya diam dan terus melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.

Semangat para Paddaros sore ini benar-benar menjadi inspirasi bagi saya. Di tengah persaingan yang secara tidak langsung terjadi antara kekuatan mereka (semi tradisional) dengan kekuatan mesin (modern) mereka tetap semangat, saling bahu membahu, kebersamaan dan gotong royong yang mereka perlihatkan seolah mengingatkan bahwa sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri sudah seharusnya kita saling terbuka dan saling membantu satu sama lain. Sekalipun keberadaan mereka semakin tergerus, semakin banyak pemilik sawah yang memilih memanen menggunakan mesin namun mereka masih tetap optimis.

“Sawah disini tidak semua tanahnya bagus nak, ada yang berlubang-lubang, becek, ada yang posisi sawahnya jauh ditengah-tengah tak ada akses jalan kecuali pematang sawah yang sempit” ujar seorang bapak kepadaku.

“kalau jalanan sempit seperti ini, kan mesinnya tidak mungkin masuk, jadi itu pasti sudah menjadi bagian kami…hahahaha” lanjutnya sambil tertawa

Inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai pekerjaan tuhan, bahwa selalu ada jalan dan potensi untuk mereka yang selalu berusaha dan berpikir positif. Jika mereka berbesar hati seperti ini dan tidak berhenti berusaha, lantas mengapa saya harus kalah… hahahaha…. benar kata si bapak siapapun dia terima kasih untuk percakapan singkat itu pak. Dan sekarang satu persatu petak sawah telah dipanen. masih belum puas rasanya bermain di sawah sore itu. Berharap saat panen berikutnya saya masih bisa duduk manis memperhatikan mereka seperti hari ini.

1856_10202733969687048_1896622632_n

it’s me

1509928_10202734007768000_359528104_n

Saat ngambil gambar si bocah

1920490_10202733957686748_735266352_n

Seolah-olah nih…

1958308_10202733980167310_192745601_n

Tada….I’m really happy

Ada Rasa di Sini *Hati (Cerpen)

Setiap tempat pasti memiliki cerita. Adakala ketika kita ke tempat itu kita akan tersenyum bahagia karena cerita lucu atau menyenangkan yang teringat. Namun tak jarang kita menangis sedih karena ada ada luka yang kembali terbuka ketika kita berada di tempat itu. Tapi kali ini semua rasa itu muncul, senang, sedih, haru bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, tempat ini adalah tempat yang begitu menyimpan banyak kenangan. Bagaimana tidak, hampir tiap hari selama tiga tahun aku menghabiskan waktu di tempat ini. Persahabatan, persaingan, ego, benci, dan cinta semua ada di sini, Ah,,, andai bisa diulang ingin rasanya mengulang 3 tahun itu lagi dengan orang-orang yang sama, dengan rasa yang sama, tak ada yang ingin kuubah kecuali satu, egoku….

“Hei…Rin, udah lama disini??” suara April membuyarkan lamunanku.

“Cukup lama, untuk mengingat masa-masa SMA kita…” jawabku sambil tertawa. Ngak tau kenapa, setelah sekian lama akhirnya mau juga aku nginjakin kaki di tempat ini, padahal ini adalah salah satu tempat yang aku hindari setiap aku balik ke Bekasi sekalipun sebenarnya tersimpan rasa rindu yang begitu besar dengan semua kenangan yang ada di sekolah ini.

“Udah ketemu dengan Bu Rianti?” April kembali bertanya

“Belum nih, sepertinya Ibu masih ngajar deh, ada tambahan jam pelajaran sepertinya buat anak walinya, Hm… Pril, move yuk…! “ajakku sambil berdiri

“Nah..mau kemana??” April buru-buru ngejar aku.

“Udah ikut aja…!” jawabku sambil berjalan menuju kursi batu tepat di bawah pohon depan ruang Pramuka

“Hahahaha….aku tahu, hahahaha….” April tertawa.

“Rin, jangan bilang kamu pengen ngajakin aku duduk bego-begoan lagi di sini, sambil natap ke arah kelas III IPA hahahaha….” April masih terus tertawa.

Iah…di sini, di kursi yang terbuat dari batu semen tepat di depan ruang Pramuka, di samping kelasku, aku selalu duduk. Pagi sebelum bel pelajaran mulai, tiap pergantian jam pelajaran, jam istirahat, bahkan setelah jam sekolah selesaipun aku sering menghabiskan waktu duduk di situ. Memandang jauh ke depan, memperhatikan dia. Memperhatikan apa yang dia lakukan bersama teman-temannya. Bener kali yah yang April bilang “Duduk Bego-begoan”, orang seperti apa yang ngabisin waktu hanya untuk duduk memperhatikan seseorang dari kejauhan sambil tersenyum? Hahahaha… dan hari ini itu kembali kulakukan, duduk terdiam memandang ke depan, memandang ke kursi batu di bawah pohon asam yang sepi, tak satu orangpun di sana, sama dengan lapangan basket di depannya, juga kosong, tak ada satu anak kelas III pun yang bermain di lapangan itu seperti biasaya.

Kenapa Rin?” April Bertanya sambil duduk di sampingku

“Kok berasa ada yang hilang yah Pril. Tiba-tiba kosong gitu” jawabku sambil terus memandang ke depan

“Ough… yaialah kan udah pada Ujian Nasional, anak kelas III kan pada libur, beberapa malah udah pada ikut bimbingan tes” April ngejelasin sambil tetep ngemut lollipop di mulutnya.

“Iah… tapi…. “

“Hei..ngelamun lagi !!!” April nepuk bahuku. Aku cuman bisa diam.

“Aku tahu yang kamu pikirkan Rin.., hahaha…Cinta pertama itu emang sulit dilupain yah, hahaha… apalagi kalo falling in love nya sama senior pas SMA, hahahaha….woii tuh muka mpe merah gitu…” April gak berhenti komentar.

“Kamu tuh yah, namanya perasaan tuh jangan dipendam, dikeluarin dong, diekspresikan, gimana dia tahu kalau kamu gak pernah ngasih tahu..!!” April ngelanjutin komentarnya

“Ih…April telat kali kamu ngomongnya, itukan udah lama banget udah..hmn…6 apa 7 tahun gituuu” jawabku ketus.

“Iah udah 6 apa 7 tahun gitu…..tapi tetap aja kan kamu suka???” April makin menjadi-jadi komentarnya.

Masih suka?

Pertanyaan yang gak bakalan bisa kutahu jawabnya, di sekolah ini, 9 bulan kuhabiskan hanya untuk memandangi dia dari kejauhan, 9 bulan kuhabiskan hanya untuk memperhatikan sikapnya, karakternya, kebiasaannya. Iah dan 9 bulan kuhabiskan tidak dengan menjalin hubungan yang baik dengannya yang ada malahan saling ngejek, ngebully, berantem tiap kali bertatapan muka. Hanya karena hal-hal kecil, perbedaan pendapat antara senior dan junior, keangkuhan dia, sikap jaimnya atau bisa jadi itu juga karena sikap egoisku yang gak pernah mau mengalah. Tapi jauh di hati ini ada rasa yang begitu dalam. Enam tahun berlalu, setiap bertemu dengannya masih ada rasa yang mengganjal, kadang masih sering untuk mencuri pandang. Memperhatikan dia, yang terkadang hanya bisa berbalas senyum dari kejauhan…halah… seperti kata April “cinta pertama emang sulit buat dilupakan” terlebih lagi buatku, buat seseorang yang hanya bisa memendam. Bahkan saat ini, saat aku duduk di tempat ini, memandang jauh ke depan, membayangkan dia yang duduk di sana, tertawa bersama teman-temannya, yang aku tahu sesekali dia menoleh kesini, entah dia melihatku atau tidak.

Mungkin rasa ini akan terus tersimpan rapi, menjadi satu cerita dalam hidupku, bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita miliki. Mungkin akan jauh lebih indah menjadi kenangan seperti ini. Toh keadaan sudah sangat jauh berbeda, dalam 6 tahun ini banyak hal yang aku dan dia lewati dalam kehidupan kita masing-masing. Bagiku ini sudah menjadi kisah yang indah untuk aku simpan

Sad-Alone-Girl-Wallpaper

“April, tahu tidak terkadang sesuatu itu hanya bisa terus dipandangi bahkan dari kejauhan dan tidak mesti kita miliki” ujarku

“Kalimat siapa lagi tuh yang kamu kutip?” Tanya April dengan wajah penasarannya

Aku hanya tersenyum. “Dia yang selalu aku pandangi dari jauh” Jawabku.

“Balik yuk….” Ajakku ke April sambil tersenyum.

What in My Mind… (Dirgahayu Kabupaten Pinrang ke-54)

url

Adipura Kota Pinrang
http://twicsy.com/i/UzZaed

Hari ini “trending topic” di semua jejaring sosial yang kupunya adalah “Dirgahayu Kabupaten Pinrang” yang ke….***waduh aku bahkan tidak tahu ini ultah yang keberapa… hm… (buka fb dan ngelihat update-an status teman…) oh iah yang ke-54. Lebih dari setengah abad kota ini berdiri. Kota di mana aku dilahirkan dan dibesarkan sekalipun sebenarya kedua orang tuaku tidak berasal dari kota ini. Oh iah Bapakku berasal dari Luwu/Palopo sedangkan ibuku berasal dari Polewali Mandar- Sulawesi Barat dan benar saja tidak banyak budaya dari kedua orang tuaku yang kupahami. Pinrang adalah salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, yah letaknya sekitar 185 km dari Makassar arah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Polawali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

benteng-pinrang1

Bendungan Benteng
wisatasulawesi.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku juga gak terlalu paham mengenai sejarah kota Pinrang, (sepertinya dengan nulis ini aku kembali mempelajari kota Kelahiranku). Kadang orang tua menyebut kota Pinrang dengan “Penrang” mungkin ada kaitannya dengan salah satu versi pemberian nama kota Pinrang (ini keimpulan aku saja yah…) yang konon katanya berasal dariBahasa Bugis yaitu kata “benrang” yang berarti “air genangan” bisa juga berarti “rawa-rawa”. Hal ini disebabkan pada awal pembukaan daerah Pinrang masih berupa daerah rendah yang sering tergenang dan berawa. Nah kalau versi kedua menyebutkan bahwa ketika Raja Sawitto (Raja Pinrang nih….) yang bernama La Dorommeng La Paleteange, bebas dari pengasingan dari kerajaan Gowa. Kedatangan Sang Raja disambut dengan kegembiraan. Namun ternyata ada yang membuat rakyat pada saat terheran karena wajah  Sang Raja berubah (mungkin karena cukup lama diasingkan) dan mereka kemudian berkata “Pinra bawangngi tappana puatta pole Gowa”, yang artinya berubah saja mukanya Tuan Kita dari Gowa. Setelah itu rakyat menyebut daerah tersebut sebagai Pinra yang artinya berubah, kemudian lambat laun menjadi Pinrang.

Nah ada juga nih versi yang menggabungkan antara keduanya yang  mengatakan pemukiman Pinrang yang dahulu rawa selalu tergenang air membuat masyarakat berpindah-pindah mencari pemukiman bebas genangan air, dalam bahasa Bugis disebut “Pinra-Pinra Onroang”. Setelah menemukan pemukiman yang baik, maka tempat tersebut diberi nama: Pinra-pinra.Nah namun pada masa penjajahan sendiri, cikal bakal Kabupaten Pinrang berasal dari Onder Afdeling Pinrang yang berada di bawah afdeling Pare-Pare, yang merupakan gabungan empat kerajaan yang kemudian menjadi self bestuur atau swapraja, yaitu Kassa, Batulappa, Sawitto dan Suppa yang sebelumnya adalah anggota konfederasi kerajaan Massenrengpulu (Kassa dan Batulappa) dan Ajatappareng (Suppa dan Sawitto). Selanjutnya Onder Afdeling Pinrang pada zaman pendudukan Jepang menjadi Bunken Kanrikan Pinrang dan pada zaman kemerdekaan akhirnya menjadi Kabupaten Pinrang. Sepertinya untuk sejarah kota Pinrang harus jauh ditelusuri nih hehehehe…

Oke..balik lagi ke pembahasan awal, kalau diibaratkan sebagai manusia, di usia yang ke-54 seharusnya itu merupakan masa-masa pensiun, sudah bukan masa produktif lagi. Dan harusnya telah menjadi masa dimana seseorang menikmati hasil kerja kerasnya. Melihat kotaku yang sekarang, sepertinya aku merasa banyak yang hilang atau karena setelah sekian lama aku baru kembali menetap di sini sehingga apa yang kulihat saat ini dan kurasakan hanyalah kerinduan akan kota yang dulu kukenal akrab. Tidak bisa dipungkiri perkembangan dan modernisasi telah masuk dan berkembang di kota kecil ini. Bangunan perkantoran yang sederhana yang dulu menjadi langganan tetapku (nganter surat rekomendasi kegiatan pas SMP dan SMA) sudah mulai berganti menjadi bangunan baru yang modern. Taman yang kembali direvitalisasi sehingga menjadi tempat anak muda ngumpul di sore dan malam hari, café-café, warkop mulai bermunculan. Distro dan butik juga semakin banyak. Apalagi yang namanya minimarket seperti indomart atau alfamart menjamur sambung-menyambung seperti gerbong kereta api. Oh iah satu lagi, ada Mall di tengah kota tepat di persimpangan jalan menuju ke Lapangan Lasinrang, Mall of Pinrang Sejahtera….*rada menggelitik, sekalipun aku gak pernah nginjakin kaki di tempat itu hahahaha (kuper atau gimana sih) tapi gak ada hal menarik yang membuatku ingin memasuki tempat itu. Beberapa bangunan baru yang membuatku tersenyum seperti perpustakaan umum-study centre,  Alhamdulillah semoga  tidak hanya sekedar bangunan megah, tetapi juga dimanfaatkan dan memberikan banyak manfaat, dalam artian dimanfaatkan pembangunannya semaksimal mungkin dan berisi bahan bacaan yang dapat menbantu proses pengembangan pendidikan kedepannya.

Ah…kalau ngomongin masalah pendidikan banyak yang menjadi kenangan di kota ini. Dulu…waktu masih memakai seragam sekolah sering kali dengan Bangga tampil mewakili kabupaten Pinrang dalam berbagai event **gak sombong-sombong amat sih..ahahaha mpe tahap nasional juga pernah kok hahaha.

Beberapa dari sekian banyak (sombong) Achievement masa sekolah dulu ^^

Ngebayangin aku yang dulu kemudian ngelihat keadaan yang sekarang seharusnya pelajar semakin memiliki kesempatan untuk berkembang, akses internet sudah sangat mudah diperoleh, berasa kalau apapun yang ingin kita cari bisa dengan mudah di dapatkan untuk menambah ilmu hanya dengan sekali klik. Sama dngan tenaga pendidik media untuk mentransfer ilmu juga semakin beragam, cara kreatif juga banyak bisa ditemukan dengan bantuan “internet”. Namun faktanya keinginan untuk mengakses internet untuk tujuan bermain-main jauh lebih besar ketimbang untuk mendapatkan ilmunya. Padahal ada mbah google dan mbah yahoo yang siap membantu memberikan informasi. Apa karena mereka terlalu cepat mengenal internet? Sepertinya tidak, ataukah filterisasi nya yang kurang? sehingga tidak menjadi maksimal, waktu terbuang percuma untuk game online, mengakses jejaring social tanpa menyempatkan diri untuk menambah ilmu. Lantas iapa yang salah? Hahahaha…kok aku ngebahasnya jauh banget sampai sini yah???

Intinya saat ini kota kecilku sedang bermetamofosa menjadi kota modern di segala bidang. Tentunya dalam kondisi yang demikian dibutuhkan sumberdya manusia yang handal untuk mengelola, menjalankan, menginspirasi atau bahkan hanya sekedar mengontrol dan mengawasi proses ini. Senang rasanya ketika melihat putra daerah yang telah sukses kemudian kembali mengabdi di kota ini atau mereka yang sekalipun jauh namun tetap mengingat dan memberikan kontribusi positif dalam hal apapun dalam perkembangan kota ini. Semoga suatu saat aku bisa menjadi seperti “mereka”.  Tiba-tiba teringat diskusi di kelas mata kuliah “Globalisasi” apa “Pasifik Barat Daya” yah, waktu itu yang jadi pemateri Sudarmono, hahaha sohib-ku nih…dimana ia memberikan pemaparan mengenai India negara yang juga sedang berkembang seperti Indonesia, yang berupaya untuk meraih kekuatan ilmuan-ilmuan asal India yang tersebar di seluruh pelosok bumi dengan cara membangun jaringan yang menghubungkan mereka dan menyatukan pemahaman untuk membangun negeri sendiri. Karena mereka sadar bahwa kondisi ini tentu saja sangat tidak menguntungkn bagi negara mereka. Sumber Daya Manusia yang penting yang ia miliki justru memajukan negara lain, bukan negara asalnya, inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Brain gain. yahhh dimulai dari yang kecil-kecil dulu, putra daerah yang berada di kota besar menjalin hubungan dan berkontribusi untuk membangun daerah asalnya, yang kemudian jika diimplementasikan secara mengeluruh akan membuka kesempatan bagi “mereka” yang ada di luar untuk melakukan apa yang seperti orang-orang India yang berada di Negara lain lakukan kepada Negara asalnya. Cukup dimulai dengan memahami hal ini maka keinginan lebih besar untuk membangun daerah asal atau bahkan kembali untuk memajukannya (Negara ini) akan berhasil. Karena pada dasarnya tak ada rumah yang paling kita rindukan selain tempat asal (kelahiran) kita. Dan keinginan untuk pulang pasti selalu ada.

Hhahaha… perasaan udah dua kali nih pembahasanku melenceng.. ^^ tapi bener loh kalau udah ngomongin pembangunan daerah kita gak bisa lepas dari pembahasan mengenai SDM, dan kemudian mereka yang menjadi pemangku kebijakan hahaha… jadi ingat kalau keliling kota Pinrang berasa banget kalau nih kota kek dibungkus baliho, saking banyaknya caleg yang akan bertarung dalam politik praktis. Saya sendiri lulusan HI dengan gelar sarjana S.Ip masih berpikir keras dengan pola perpolitikan yang sekarang menjamur di masyarakat. Apakah semakin banyaknya orang-orang yang bermain pada ranah politik ini merupakan bukti kesadaran masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam membangun daerah khususnya dan bangsa pada umumnya? Ataukah hanya sebagai ajang perebutan kekuasaan mencari siapa yang berikutnya akan menjadi juru kemudi penentu dan pelaksana kebijakan? Apapun niatnya semoga mereka yang bertarung benar-benar membawa aspirasi rakyat, mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa ini bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Siapapun mereka yang wajahnya trpampang di baliho yang aduh…kadang dipasang di pohon kan kasihan pohonnya…L semoga bisa membawa perubahan nantinya khususnya buat kota kecilku ini. Terlalu banyak komentar saya ini, hahaha… Finally ikutan juga ngucapin Dirgahayu Kabupaten Pinrang yang ke-54. ^^

Sumber:

http://rahadiansunandar.wordpress.com/2011/03/13/brain-gain-brain-drain-dan-brain-circulation-2/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pinrang

“Banyak cara orng untuk memisahkan aku dengannya, tetapi kenapa kami tak bisa terpisah, Banyak pula cara kami untuk bersatu, tetapi masih belum bisa untuk benar2 bersatu. Apakah kami kurang kuat berusaha ataukah memang di kehidupan ini Kami tak berjodoh?
Aku mungkin tak bisa selalu berada di sisinya, bahkan terkadang jarak memisahkan. Tapi hal itu tak menjamin dia akan menjadi milikmu sepenuhnya. Karena ada celah di hatinya, ada ruang kecil yang tak pernah benar-benar tertutup. Ruang dimana ada rasa yang dia punya untukku. Sama dengan memorynya ada beberapa space yang terisi tentangku, tentang senyumku, tangisku, tawaku dengannya. Disekelilingnya banyak hal yang dia simpan buat mengingtku. Dan sampai hari ini selalu ada cara buat dia ataupun aku untuk bertegur sapa. Lantas bagaimana kami terpisah ??? “

Arini mengakhiri tulisannya malam ini dengan tanda tanya, tanda tanya tentang kehidupan pribadinya yang bagi dia terkadang sangat ingin dia sampaikan kesiapapun yang mengenalnya, namun ia sadar tak cukup penting baginya untuk menjelaskan setiap pertanyaan yang menyudutkan dirinya tentang hubungan yang dia miliki saat ini, cukup aku, dia dan Tuhan yang tahu kebenarannya. Tentang siapa yang tersakiti, tentang siapa yang disayangi dan siapa yang pada akhirnya berada di sisi. Tentang bagaimana mencintai, bagimana menyayangi Dan menjaga sekalipun mereka tak selalu bersama.

Arini, begitu aku memanggilnya. Gadis yang kukenal sejak duduk di bangku SD gadis yang selalu penuh tawa dan berusaha membahagiaan orang sekitarnya tapi aku tahu dia kadang rapuh dan kadang tengelam dalam sisi yang aku sendiri sulit mendefinisikannya. Yah seperti suatu area dimana logika sulit membacanya, yang bagiku akan sulit kupahami karena aku tak merasakan apa yang dia rasakan yang bagi dia selalu dia katakan bahwa dia sedang Berman-main di area x kehidupannya.

#petikan unpublished story #area x #cukup menjadi kisah kita #semoga bisa terselesaikan secepatnya :D

View on Path

Open recruitment for Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan ^^
Mari gabung yuk sebagai relawan pengajar, relawan fotografer/videographer pendaftaran dimulai 14jan-14feb langsung di website http://kelasinspirasi.org jgn lupa pilih lokasi kabupaten Pinrang yahh…
Hari inspirasi dilaksanakan di Sul-Sel serentak di 9 kabupaten dan kota, insya Allah 5 Maret 2014

Yuk menginspirasi, sehari cuti selamanya menginspirasi, bantu mereka mewujudkan cita-cita…. ^^ – with Zen, Erma, Nunkzzz, Datul, Ikhsan, Yayuk, Andin, JaLi_hoo, Shofyan, Achmad Nur, Yaya, and Nur Inayah

View on Path